Mite Sunan Lawu

Adalah seorang lelaki lajang yang mempunyai hobi naik gunung. Salah satu gunung yang disenanginya adalah Gunung Lawu. Letaknya di sebelah timur kota Sala, kurang lebih empat puluh kilometer jaraknya.


Kaki Gunung Lawu berada di dua wilayah propinsi. Kaki sebelah barat masuk propinsi Jawa Tengah, kaki sebelah timur masuk wilayah Propinsi Jawa Timur.

Pada suatu hari, lelaki lajang itu berkisah tentang Gunung Lawu, Certanya begini.

Menurut kepercayaan penduduk setempat, di puncak Gunung Lawu berdiri sebuah istana. Tentu saja, seperti keraton Laut Selatan yang tidak tampak, istana di puncak Lawu pun tidak kelihatan. Raja yang bertakhta bergelar Sunan Lawu. Sebelumnya, ia dikenal dengan nama Bondan Gugur, putra Brawijaya VII, raja terakhir di Majapahit.

Pada waktu Bondan baru berusia enam belas tahun, kerajaan Majapahit diserang oleh Adipati dari Bojanegara dan Cepu. Pemuda Bondan melarikan diri hingga di kaki Gunung Lawu wilayah timur. Di sini pun, musuh mengetahuinya. Lalu Bondan memutuskan menaiki gunung itu. Naik terus ia, hingga terengah-engah hampir kehabisan napas. Merasa tidak kuat lagi. Bondan pun rebah, tak sadarkan diri. Matanya terbuka lagi ketika ia sudah berada di rumah seorang petapa. Jamba Leka namanya.

Kepada petapa, Bondan bercerita tentang kehancuran kerajaannya. Fahamlah ia, zaman Majapahit sudah berakhir. Tahulah pula ia bahwa Bondan Gugur, yang tak lain putra nomor lima Raja Brawijaya itu, kini seorang buronan. Sedihlah hati sang petapa. Mengapa perubahan zaman dapat mengubah citra sehingga orang  baik-baik bisa dianggap penjahat?.

“Sebagai pemuda, kamu harus tabah” kata sang petapa sambil mengusap air mata. Bondan hanya mengangguk, lalu menunduk. Terbayang kerajaannya remuk.

“Bagaimana kalau kamu tinggal di sini, menjadi muridku?”

“Baiklah. Tapi pantaskah aku menjadi sisa seorang petapa?” Bertanya Bondan dengan gaya kebocahan.

“Pertanyaanmu menunjukkan kamu seorang rendah hati. Hanya oleh orang-orang muda seperti kamu ini, pengetahuan dan ilmu sejati dapat dipahami, dimengerti, dan dihayati,” jawab Jamba Leka.

Mulai saat itu, Bondan menjadi siswa, diantara siswa-siswa yang lain. Rajin dan tekun ia belajar. Mendengarkan apa yang harus didengar, menutup telinga untuk yang tak pantas didengarkan.

Dalam waktu singkat, Bondan menunjukkan diri sebagai siswa pilihan.

Pada suatu malam larut  yang sepi, tatkala rerumputan dan dedaunan pulas tidur, angin bersembunyi di dalam gua di kaki gunung, sang petapa membuka suatu rahasia.

“Kedatanganmu di tempat ini, memang sudah tepat” kata Jamba Leka memulai. Kemudian, diceritakanlah olehnya bahwa sudah lama ia mendengar bisikan para Dewa tentang akan berakhirnya masa jaya kerajaan Majapahit di dunia. Kejayaan Majapahit dipindah ke alam lain, yakni di puncak Gunung Lawu.

“Maksud Bapak petapa bagaimana?”

“Maksudku, kamu akan diwisuda menjadi raja dan bertakhta di kerajaan ini, di sini,” kata Jamba Leka.

“Untuk itu, aku akan menyatukan diri ke dalam tubuh dan jiwamu,” kata sang petapa lembut. Ia pun tersenyum. Karena senyuman itu muncul dari hati yang tulus, langit pun bagai tirai terbuka Cerah. 

Diceritakan selanjutnya, kelak Bondan akan didampingi oleh dua orang pembantunya, yakni Turanggajati dan Pradah. Masing-masing mempunyai tugasnya sendiri. Turanggajati bertugas memilih tamu-tamu yang pantas bertemu dengan Sunan Lawu; Pradah mengemban tugas menjaga keamanan kerajaan d puncak Gugung Lawu.

“Apa yang kau cemaskan lagi, anakku?”

Bondan menunduk. Sedikit tersenyum

“O, ya, kelak, serang wanita jelita akan mendampingimu sebagai permaisurimu.”

“Siapa dia?”

“Namanya Dewi Angin-angin. Ia sendiri seorang ratu, bertakhta di Karajaan Laut Selatan.”

Bondan mengangguk.

Demikian pembicaraannya berlangsung hingga menjelang subuh.

Bgitu mite yang diceritakan oleh lelaki lajang itu. Menurutnya, sampai sekarang penduduk setempat masih memuliakan Sunan Lawu, itu dengan sejumlah upacara, betapa pun kecil. Penduduk di Magetan pun sangat menghormati Sunan Lawu.

Kesimpulan

Mite ini mengajarkan kepada kita, antara lain, bahwa apabila orang bersedia memahami penderitaan, ternyata dapat merupakan latihan mental untuk mendapatkan kebahagian kelak.

Tidak terbayang sebelumnya, Bondan Gugur akan memperoleh kepercayaan dan kemuliaan sebesar itu. Padahal itu sebenanya buah dari yang dikerjakannya sendiri.


loading...
Kamu sedang membaca artikel tentang Mite Sunan Lawu Silahkan baca artikel Alkisah Rakyat Tentang Yang lainnya. Kamu boleh menyebar Luaskan atau MengCopy-Paste Artikel ini, Tapi jangan lupa untuk meletakkan Link Mite Sunan Lawu Sebagai sumbernya

0 Response to "Mite Sunan Lawu"

Post a Comment

Cerita Lainnya