Ki Ageng Makukuhan

Dahulu kala tersebutlah seorang janda yang tinggal di wilayah Purwokondo. Ia memiliki seorang putra bernama Joko Teguh. Terkisahkan, Joko Teguh berparas dungu dan sering mendapat ejekan teman-teman sebayanya karena tingkahnya yang menggelikan. Akan tetapi, sebenarnya banyak orang yang menyukai Joko Teguh karena budi luhur dan santun tingkah lakunya.


Joko Teguh juga memiliki kepintaran dalam hal obat-obatan. Ia mengenal berbagai jenis tumbuhan yang dapat menyembuhkan penyakit.

Ketika usianya menginjak dewasa, Joko teguh berniat mengembara meninggalkan desanya. Betapa sedih sang ibu mendengar rencana anak satu-satunya itu. Akan tetapi kemudian ibunya menyadari bahwa anaknya harus mencari ilmu dan pengalaman agar hidupnya di masa depan lebih baik. Untuk itu ia harus pergi jauh dari desanya.

“Baiklah. ngger. kau boleh pergi mencari keutamaan, akan tetapi, hendaknya kepergianmu tidak sia-sia. Maka sebaiknya tuntutlah ilmu kebaikan, dan petiklah segala pengalaman baik,” pesan sang ibu.

Joko Teguh bersujud kepada ibunya, lalu berangkat pergi. Sebagai tanda kasih sayang, sang ibu memberikan sebutir telur burung pipit sebagai bekal anaknya.

Sebelum Joko Teguh pergi, sang ibu berpesan. “Ngger, jika engkau hendak menuntut ilmu, maka mengabdilah kepada Panembahan Hardo Pikukuh di wilayah Ngargo Sari, disana engkau Insya Allah dapat memperoleh apa yang kau angan-angankan.”

Joko Teguh menurut nasihat sang ibu, maka berangkatlah ia ke Ngargosari. Dengan berjalan kaki ia tempuh perjalanan itu berhari-hari bahkan berbulan-bulan. Menyeberangi sungai, melewati lereng-lereng gunung menuruni jurang.

Namun, betapa kecewa hatinya ketika Joko Teguh menghadap sang panembahan, Hasratnya untuk mengabdi diterima oleh Panembahan dengan satu syarat yaitu Joko Teguh harus dapat mempersembahkan seekor kuda sembrani.

Kuda sembrani adalah seekor kuda yang dapat terbang dengan sayapnya. Hal itu sebagi syarat untuk mengobati sakit putri Panembahan Hardo Pakukuhan, yaitu Dewi Sri Lintang Katon. Joko teguh merasa kecil hati mungkinkah ia bisa mendapatkan kuda sembran.

Akan tetapi, demi niatnya yang luhur, Joko teguh tidak takut untuk mencari kemana pun bisa diperoleh kuda Sembrani itu.

Adapun bagi Panambahan, kuda sembrani dimaksudkan sebagai syarat untuk kesembuhan putrinya,. Dewi Sri Lintang Katon yang berparas cantik jelita itu tengah menderita  kebutaan. Sakit itu hanya bisa disembuhkan dengan datangnya kuda sembrani.

Dengan perasaan kecewa, Joko Teguh melanjutkan pengembaraannya. Tujuannya tiada lagi jelas. Namun, dalam hatinya mendambakan agar dapat bertemu dengan kuda yang diinginkan sang putri.

Tidak lama kemudian, ia bertemu dengan seorang saudagar kaya dari Ngembuh Kawuryan. Saudagar kaya itu ternyata juga sedang melakukan pengembaraan. Namun, tujuannya adalah untuk mencari pengobatan bagi dua putrinya yang sedang sakit lumpuh. Kedua putri itu bernama Endang Melati dan Endang Rantam Sari.

“Insya Allah, saya tahu bagaimana mengobati lumpuh,” kata Joko teguh.

“Duh, beruntung benar saya ini,” kata seorang saudagar itu.

“Jika demikian, sudilah Anda mengobati kedua putri saya,” ujar kemudian.

Joko Teguh berpikir sejenak.

“Jika sakit anakku dapat tersembuhkan olehmu, maka saya bersedia memberi hadiah apa pun yang engkau minta,” katanya.

Joko Teguh lalu tersadar. Maka ia minta hadiah seekor kuda sembrani jika dapat menyembuhkan dua anak perempuan saudagar kaya itu. Diluar dugaan, permintaan itu akan dipenuhi, maka berangkatlah Joko Teguh ke Ngembuh Kawuryan.

Joko Teguh, punya keyakinan bahwa telur burung pipit dapat menyembuhkan sakit lumpuh, dengan bekal itu sajalah Joko Teguh mengobati sakit lumpuh yang diderita putri saudagar itu.

Dengan sungguh-sungguh dan disertai doa memohon rahmat Allah, Joko teguh mengobati Endang Gadung Sari dan Endang rantam Sari. Betapa bahagia saudagar kaya itu dan keluarganya melihat kedua putrinya sembuh dari kelumpuhan.

Maka dihadiahilah Joko Teguh  dengan seekor kuda Sembrani yang indah. Bahkan atas kebahagiaan itu maka oleh saudagar itu Endang Gadung Sari dan Endang Rantam Sari pun diserahkan kepada Joko Teguh untuk dijadikan istri.

Dengan bahagia, Joko Teguh dan kedua putri cantk jelita itu meninggalkan Ngembuh kawuryan. Mereka mengendarai kuda sembrani menuju Ngargo Sari untuk menghadap kepada Panembahan Hardo Pikukuh.

Mendengar datangnya kuda sembrani. Dewi Sri Lintang Katon pun terhenyak. Ajaib, sakit penglihatan yang dideritanya berangsur membaik. Akan tetapi, kesembuhan itu pun berkat kepandaian Joko Teguh akan ilmu pengobatan.

Di terimalah Joko teguh mengabdi pada Panembahan Hardo Pikukuh. Namun, Endang Gadung Melati dan Endang Rantam Sari memilih meninggalkan Joko Teguh.

Namun, Panembahan Hardo Pikukuh menghadiahkan  Dewi Sri Lantang Katon untuk dijadikan istri Joko Teguh. Mereka pun kemudian diberi tanah perdikan bermama Kembang Madu. Ketika kedua suami istri itu mulai membangun tanah perdikan Kembang Madu. Panembahan Hardo Pikukuh juga memberi gelar Joko Teguh dengan Penembahan Makukuhan.

Dan selama beberapa waktu, Joko Teguh diajarkan berbagai kepandaian dalam hal oleh tani.

Tanah prikan yang pada mulanya kering dan tandus, berkat keuletan Panembahan Makukuhan berubah menjadi tanah yang subur lagi makmur. Demikian juga rakyat di daerah itu bersatu saling membantu.

Panembahan  Makukuhan  pun akhirnya hidup bahagia di daerah Kambang Madu itu bersama istrinya, Dewi Sri Lintang Katon dan paran selinya Endang Gadung Sari dan Endang Rantam Sari. Berkat kewibawaan dan ngat subur kearifannya dalam memimpin masyarakat, maka tempat itu, banyak daerah yang terkenal sangat subur. Karena itu, banyak pengikut yang berguru kepada panembahan Makukuhan.

Ketika Panembahan Makukuhan meninggal dunia, jasadnya diperebutkan oleh para siswanya untuk dimakam di daerah mereka. Namun, salah seorang muridnya, ingat akan pesan Panembahan Makukuhan yang ingin dimakamkan di puncak Gunung Sumbing. Dengan begitu kewibawaannya akan tersebar merata di semua daerah Kembang Madu.

Kesimpulan

Cerita ini tergolong legenda, nama-nama dan tempatnya dipercaya benar-benar ada. Dan bahkan hingga sekarang masyarakat masih percaya akan kewibawaan Panembahan Makukuhan yang memberi kesuburan bagi masyrakat Kedu (Kembang Madu). Masyarakat pada waktu-waktu tertentu berziarah ke makam Panembahan Makukuhan di Gunung Sumbing

Kisah ini mengajarkan kepada kita akan perlunya menuntut ilmu demi mendapatkan keutamaan. Juga dapat kita petik ajaran tentang kearifan.

Panembahan Makukuhan adalah tokoh yang mampu menyatukan masyarakat, bahkan hingga meninggal pun ia tetap ingin membagikan kewibawaannya kepada semua masyarakat secara adil dan merata.


loading...
Kamu sedang membaca artikel tentang Ki Ageng Makukuhan Silahkan baca artikel Alkisah Rakyat Tentang Yang lainnya. Kamu boleh menyebar Luaskan atau MengCopy-Paste Artikel ini, Tapi jangan lupa untuk meletakkan Link Ki Ageng Makukuhan Sebagai sumbernya

0 Response to "Ki Ageng Makukuhan"

Post a Comment

Cerita Lainnya