Mite Dewi Empyakwati

Lagu keroncong Bengawan Solo ciptaan Gesang antara lain, berkisah bahwa sungai tersebut yang terkadang “meluap sampai jauh.” Itulah sebabnya, di sepanjang sungai didirikan tanggul untuk membendung luapan air pada waktu musim hujan. Tanggul berakibat adanya wilayah yang disebut Kidul Tanggul, yang artinya di sebelah selatan tanggul.


Konon, pada zaman Belanda, wilayah Kidul Tanggul itu saangat sering diserang banjir. Oleh karena itu, wilayah itu tempo doeloe dapat dikatakan rawan banjir. Tidaklah mengherankan, kadang rawan itu menimbulkan waswas di kalangan penduduk.

Mungkin inilah yang kemudian mendorong lahirnya sebuah mite tentang banjir di Sala.

Kapan sebenarnya terjadi, tampaknya tidak seorang pun penduduk kota Sala yang tahu dengan tepat. Yang dapat dikatakan, banjir besar, sangat besar, pernah melanda kota itu. Banyak rumah penduduk yang terendam air hingga ke atapnya, terutama yang ada di wilayah Kidul Tanggul.

Banjir besar itu terjadi, konon bukan saja akibat hujan deras berhari-hari lamanya, tetapi juga akibat belum dilaksanakannya bersih desa yang sudah lama diamanakan oleh Nyi Rubi dari Magetan, Jawa Timur.

Alkisah pada waktu itu, disebelah selatan desa Sala ada seorang petapa terkenal yang namanya Ki Wiron Lumut. Beberapa kali ia minta perhatian sang raja yang tengah memerintah agar berkenan memperhatikan keadaan wilayahnya. Pada waktu itu, daerah tersebut sering disatroni perampok. Mereka menjarah kekayaan penduduk. Di samping itu, tanaman palawija yang ada d wilayah itu sering diserang babi hutan atau binatang lainnya, atau diserang penyakit tanaman, yang menjadikan hasilnya jauh dari cukup. Namun, sekian kali permohonan perhatian itu tidak kunjung mendapat jawaban memadai.

Karena kesal, Ki Wiron Lumut pergi meninggalkan desanya, menuju ke arah timur, yang pada waktu itu disebut Brang Wetan. Tujuannya tidak lain mencari upaya untuk mengatasi keadaan di desanya.

Sebagai seorang petapa, ia tidak diperkenankan berkelahi melawan penyamun-penyamun. Tidak pula ia diperkenankan bertindak sendiri mengatasi gangguan hama. Sebab, ia tahu, seorang petapa hanya diperkenankan memberikan pertimbangan, dan bukan melakukan tindakan. Apalagi, tanpa izin dari pemegang tampuk pemerintahan.

Kepergian Ki Wiron Lumut cukup lama. Ini membuat penduduk yang ditinggalkannya semakin gelisah. Lebih gelisah lagi mereka, ketika hingga musim hujan tiba Ki Wiron Lumut belum kembali. 

Oleh karena itu, seperti sudah pernah diramalkan sebelumnya, tatkala hujan turun dengan deras berhari-hari dan bermalam-malam, sungai di sekeliling desa Sala, meluap sampai jauh. Banjir pun melanda wilayah Kidul Tanggul tersebut.

Pada saat itu, ada seorang wanita mengandung tua. Tatkal kandungannya baru berusia tiga bulan, suaminya meninggal akibat tertimpa dengan sebatang pohon yang roboh ketika tengah mencari kayu bakar di hutan. Sebenarnya banyak penduduk yang menaruh belas kasihan kepadanya. Tetapi, hampir semua uluran bantuan kepadanya selalu ditolaknya. Alasannya, si janda sudah mampu menghidupi diri sendiri. Di samping itu, ia tidak ingin merepotkan orang lain.

Rupa-rupanya, bukan itu alasan yang sebenarnya. Bayi yang ada dalam kandungan itulah yang menolaknya. Setiap kali ada orang yang ingin menawarkan sesuatu begitu si janda ingin menerimanya, bayi di dalam rahim terasa menggeliat dan menyepakkan kakinya pada perutnya.

Ketika banjir melanda, banyak penduduk yang ingin menolongnya. Namun, si janda tetap menolaknya.

Dengan susah payah, si janda naik ke atap rumahnya dan melepaskan lelah di sana. Basah kuyup tubuh dan pakaiannya karna air bah, si janda tidur terlentang di atas atap. Tepat pada tengah malam, ia merasa akan melahirkan. Karena pertolongan para dewa, bayi pun lahirlah tanpa bantuan siapa pun.

Bayi itu perempuan dan diberi nama Empyakwati. Empyak artinya atap, wati menunjukkan bahwa bayi itu perempuan .

Begitu bayi itu meneriakkan tangisnya pertama, seluruh wilayah bagaikan terguncang gempa. Air yang setinggi atap pun susut perlahan-lahan. Semakin keras bayi menangis, semakn cepat air menyusut, hingga airnya seluruh wilayah menjadi kering.

Ketika seluruh daerah kembali kepada keadaan semula, si janda dengan susah payah dari atap sambil menggendong bayinya. Tepat pada saat itu, tibalah kembali Ki Wiron Lumut dari pengembaraannya.

Atas permintaan Ki Wiron Lumut, si janda dan bayinya tinggal di rumahnya. Alasannya, banyak orang yang akan membantu janda dan bayinya selama empat puluh hari pertama. Janda pun menerima permintaan itu.

Empat puluh hari kemudian, di rumah Ki Wiron diadakan selamatan untuk Empyakwati.

“Tapi kamu jangan terkejut,” kata petapa. “Usia bayi ini hanya empat puluh hari.”

Mendengar kata-kata petapa, si janda sangat sedih. Ternyata benar, Pada saat orang-orang di wilayah itu berkumpul menyelenggarakan selamatan, bayi itu, tiba-tiba hilang.

“Dewi Empyakwati akan tetap membantu kita menghadap berbagai kesulitan, asalkan diselenggarakan bersih desa dan upacara-upacara rangkaiannya,” kata Ki Wiron.

Si Janda menangis tersedu-sedu karena kehilangan bayinya, tetapi kemudian mengikhlaskannya. Sebab betapa pun keras jerit tangisnya, Empyakwati tidak akan kembali. Yang menggembirakan, berbagai macam hama penyakit, perampokan, dan gangguan lainnya banyak berkurang.

Peristiwa ini akhirnya terdengar oleh raja yang sedang berkuasa. Si Janda diminta datang ke istana. Tidak hanya dia sendiri yang mendapatkan hadiah, tetapi perhatian kepada wilayah itu juga meningkat.

Menurut catatan, upacara memuliakan Dewi Empyakwati masih diselenggarakan hingga tahun 1930-an terutama di wilayah Kidul Tanggul. Mungkin karena upacara semacam ini memerlukan biaya tinggi, perlahan-lahan orang melupakannya, bersamaan dengan semakina jarangnya diselenggarakan upacara bersih desa dimana-mana.

Kesimpulan

Mite ini memberikan pelajaran bahwa untuk memperoleh ketenteraman diperlukan pengorbanan. Karena begitu banyak pengorbanan si janda, ia akhirnya menerima pahalanya.

Demikian juga seluruh penduduk di wilayah tempat tinggalnya.


loading...
Kamu sedang membaca artikel tentang Mite Dewi Empyakwati Silahkan baca artikel Alkisah Rakyat Tentang Yang lainnya. Kamu boleh menyebar Luaskan atau MengCopy-Paste Artikel ini, Tapi jangan lupa untuk meletakkan Link Mite Dewi Empyakwati Sebagai sumbernya

0 Response to "Mite Dewi Empyakwati"

Post a Comment

Cerita Lainnya