Dongeng Saudagar Dan Sehelai Sapu Tangan

Pada zaman dahulu, hiduplah seorang saudagar yang kaya raya. Ia mempunyai seorang putra tunggal yang tampan wajahnya, tetapi tinggi hatinya perangainya. Pada suatu hari, saudagar itu berkeinginan untuk memungut anak, yang diharapkan dapat menemani si putra tunggal yang sering kesepian di rumah karena tidak mempunyai saudara.


Tanpa memberitahukan kepada anak dan istrinya, saudagar itu, pada waktu  pulang berdagang dari negeri jauh, sudah membawa anak pungut bersamanya. Istrinya dengan terbuka dapat menerimanya. Akan tertapi, si putra tunggal tidak senang kepadanya. Baginya, anak pungut itu akan menjadi saingannya dan bukan temannya.

Kalau kebetulan saudagar dan istrinya tidak ada di rumah, si putra tunggal memperlakukan anak pungut itu dengan seenaknya. Sekali pernah, si putra tunggal mengambil segenggam kacang hijau dari karung lalu disebarnya di halaman.

“Pungut kacang hijau itu,” perintahnya kepada anak pungut. Dengan sabar, perintah itu dilaksanakannya.

Kali lain, si putra tunggal meminta anak pungut memberi makan kuda dalam kandangnya. Kuda itu belum jinak dan suka menyepak. Maka, begitu si anak pungut membuka pintu kandang dan masuk, kuda segera menunjukkan sikapnya yang ganas.

Jangan takut, masukkan rumput itu ke dalam mulutnya, perintah si putra tunggal. Karena kuda masih liar, ketika si anak pungut mendekatinya, segera disepaknya. Si putra tunggal tertawa melihat si anak pungut kesakitan. Ketika saudagar itu pulang, si putra tunggal melaporkan bahwa si anak pungut tidak mengindahkan nasihatnya. Ia dikatakan mengganggu kuda liar itu, akibatnya, disepaknya.

Laporan itu membuat saudagar marah. Celakanya si anak pungut tidak berani mengatakan apa yang sebenarnya terjadi. Demikianlah dari hari ke hari, si anak pungut semakin menderita.

Pada suatu hari, si anak pungut berkeinginan meminta pamit, pulang ke tempat asalnya. Tetapi, keinginan itu ditolak oleh si saudagar. Istri saudagar itu pun menahannya supaya jangan pergi. Sebaliknya si putra tunggal mendorong ayahnya agar melepaskan anak pungut itu.

Keesokan harinya, saudagar tersebut mendapat laporan dari salah seorang pembantu rumahnya bahwa si anak pungut sering diperlakukan kurang baik. Tahulah ia sekarang bahwa luka-luka pada tangan, kaki dan wajah si anak pungut, adalah akibat perlakuan anaknya sendiri yang selalu dilaporkan sebaliknya. Setelah berpikir lama, timbul di benak saudagar itu untuk memberikan pelajaran kepada anaknya.

Apa yang dilakukan saudagar tersebut?

Pada suatu hari, ketika tidak bepergian, saudagar memanggil pegawai-pegawainya berkumpul di ruang yang luas dibelakang rumahnya. Putra tunggalnya dan si anak pungut diminta hadir pula. Dalam beberapa menit, ruangan itu penuh. Saudagar itu memasuki ruangan tersebut setelah mereka telah duduk rapi di tikar. Ia masuk sambil menenteng sebuah kopor kecil.

Kepada yang hadir, saudagar berkata bahwa ia membawa sehelai sapu tangan ajaib dari negeri Hindustan. Ia lalu membuka kopor itu dan mengeluarkan sehelai sapu tangan dimaksud, yang ternyata sepotong kain kotor.

“Di dunia ini ada dua macam manusia yang dihormati. Pertama, manusia hebat, dan kedua, manusia jujur,” kata saudagar itu.

“Tetapi, biasanya, manusia hebat lebih dikenal luas.” Kemudian saudagar itu berkata bahwa pada sapu tangan itu tampak gambaran seluruh alam semesta.

“Hanya orang hebat yang bisa melihat,” katanya lagi. Lalu, ia memanggil si putra tunggal maju. Kepadanya, saudagar memberikan sapu tangan itu.

“Perhatikan, apa yang tampak pada kain itu,”  perintah saudagar kepada putranya.

“Wah, seluruh alam semesta tampak di sini,” teriak sang putra.

“Bagaimana bau sapu tangan ajaib itu. Harum sekali, bukan?” tanya saudagar itu sambil menyuruh putranya untuk mengendusnya. Begitu kain itu menempel pada hidungnya, ia merasa tidak tahan akan baunya yang amis.

“Betul. Harum sekali melebihi sejuta mawar dari dewa.” Jawab sang putra.

“Baiklah. Kini giliran anak pungutku,” kata saudagar itu sambil memberikan kain itu kepadanya.

“Apa yang kamu lihat?” tanyanya.

“Saya tidak melihat apa-apa. Mungkin karena saya bodoh sekali,” kata si anak pungut.

“Baiklah. Sekarang ciumlah dan katakan bagaimana baunya,” perintah saudagar itu lagi. Si anak pungut pun segera melakukan yang diperintahkan kepadanya.

“Harum sekali, bukan?”

“Tidak. Baunya amis sekali,” kata si anak pungut.

Mendengarkan perkataan si anak pungut, riuh endahlah komentar pegawai yang berkumpul.

“Kamu goblok,” kata si putra tunggal. “tidak pantas kamu tinggal di rumah ini.”

Para pegawai semakin riuh memberi komentar sendiri-sendiri tentang kain itu. Dengan penuh wibawa, saudagar itu dapat menenangkan mereka.

“Kalian pernah melihat kain ini?” bertanya saudagar kepada para pegawai. Satu demi satu mereka diminta mengamatinya.

“Kain itu mirip yang ada di kandang kuda,” kata salah seorang di antara pegawai setelah memeriksanya dengan saksama.

“Biasanya, kain itu saya gunakan untuk melap tubuh kuda,” sambung yang lain.

Benar sekali. Kain ini saya ambil dari kandang kuda. Jadi pada kain ini tidak ada gambaran alam semesta, dan baunya pun tidak harum sama sekali, kata saudagar itu. Sesudah itu, mereka diminta bubaran. Esok harinya, saudagar itu memanggil putranya. Kepadanya ia memberitahukan bahwa anak pungut itu akan diajaknya pergi ke negeri yang jauh untuk mencari ilmu.

“Dia anak yang jujur. Kalau ia mendapatkan kesempatan belajar, ia akan menjadi manusia berguna. Kamu sudah hebat, karena itu tinggallah di rumah saja bersama kuda dan pegawai-pegawai,” kata saudagar itu.

Si putra tunggal terbengong, menunduk, lalu mengakui kesalahannya.

“Kamu harus minta maaf kepadanya. Setiap orang akan menjadi saudaramu kalau kamu bersikap baik kepada siapa pun,” kata saudagar itu lagi.

Si putra tunggal berjanji bahwa ia akan menerima si anak pungut  sebagai  saudaranya.

Kesimpulan

Bersikap jujur memang tidak mudah, apalagi kalau kejujuran itu menimbulkan kesan bahwa kurang mampu atau kurang pandai. Namun, dengan kejujuran, kemungkinan untuk maju terbuka dan dapat dipercaya banyak orang. Kejujuran adalah bekal penting dalam pergaulan dan dalam mengemban tugas. Itulah sebabnya, saudagar itu memilih si anak pungut untuk diajaknya berdagang ke berbagai negeri. 


loading...
Kamu sedang membaca artikel tentang Dongeng Saudagar Dan Sehelai Sapu Tangan Silahkan baca artikel Alkisah Rakyat Tentang Yang lainnya. Kamu boleh menyebar Luaskan atau MengCopy-Paste Artikel ini, Tapi jangan lupa untuk meletakkan Link Dongeng Saudagar Dan Sehelai Sapu Tangan Sebagai sumbernya

0 Response to "Dongeng Saudagar Dan Sehelai Sapu Tangan"

Post a Comment

Cerita Lainnya