Dongeng Raja Dan Secawan Garam

Di kota Sala, tepatnya di kampung Reksoniten, ada seorang wanita yang sudah lanjut usianya. Ibu harja namanya. Pada saat-saat senggang selepas magrib, ia suka mendongeng. Salah satu dongengnya yang paling menarik diceritakannya sebagai berikut.


Alkisah di negeri yang jauh, bertakhtalah seorang raja. Ia dapat dikatakan sudah uzur, karenanya tingkah-lakunya sering aneh. Ia mempunyai anak tiga orang, semuanya wanita. 

Yang sulung bernama Dewi Trangguli, yang kedua sering dipanggil Wara Untari, dan yang bungsu disebut Niken Sawitri. Putri yang sulung dan yang kedua sudah menikah dengan bupati, yang bungsu masih gadis.

Pada suatu malam, raja tidak dapat tidur sebab ia mendengar bunyi burung tu’u. menurut kepercayaannya, apabila seseorang mendengar bunyi itu pertanda bahwa saat kematiannya hampir tiba. Oleh karena itu, pagi harinya, dalam sidang lengkap yang dihadiri segenap narapraja, raja pun berkenan memanggil tiga putrinya.

Ketika mereka sudah menghadap di depannya, bertitahlah raja.

“Aku sudah tua, Sebentar lagi aku akan meninggalkan kehidupan ini. Tetapi selama aku membesarkan kalian hingga menikahkan kalian, aku belum pernah mendengar pernyataan dari mulut kalian sendiri seberapa besar cinta kalian kepadaku.”

Para putri itu terkejut. Mereka bertanya-tanya, jangan-jangan ayah mereka sudah pikun. Perlukah cinta kepada orang tua dinyatakan dengan kata-kata? Pikir mereka .

“Dengarkan aku baik-baik dan ungkapkan isi hatimu,” titah raja lagi. Mereka menunduk.

“Trengguli, seberapa besarkah cintamu kepada aku? Jawab!”

Dewi Trengguli berpikir sejenak. Lalu ingat pesan suaminya bahwa sebagai anak tertua. Trengguli harus dapat meperoleh warisan berbentuk harta, tanah, dan kekuasaan sebesar-besarnya.

“Ayah,” kata Trengguli perlahan. “Cinta hamba kepada ayah sebesar tanah kerajaan ini, ditambah lautan yang yang menjadi kekuasaan ayah.”

“Bagus. Hebat! Bagaimana dengan kamu Untari?”

“Cinta hamba kepada ayah lebih besar dari seluruh bumi ini, lebih luas dari langit, lebih berharga dari bintang-bintang gemerlapan di langit. Lebih sejuk dari angin pagi, lebih segar dari udara pegunungan.”

“Cukup!” teriak raja memotong.” Pokoknya aku sudah tahu, cinta Trengguli dan cinta Untari kepadaku sangat luar biasa besarnya. Karena itu, kalian berdua aku berikan hadiah tanah seribu hektar untuk Trengguli, dua ribu haktar untuk Untari.”

Mendengar titah raja, Trengguli bersungut-sungut.

“Kamu jangan marah, Trengguli. Walaupun kamu anak tertua, tetapi karena cinta adikmu kepadaku lebih besar dari cintamu kepadaku, hadiah tanah untuk adikmu lebih luas.Paham?”

Trengguli menunduk lalu mengangguk.

“Bagaimana dengan kamu, Sawitri?” Sawitri terdiam. Menunduk. Kebingungan semakin menyerang pikiran dan hatinya.

“Kamu akan mengatakan bahwa cintamu kepada ayahmu lebih besar dari cinta dua kakakmu, bukan?” bertanya raja dengan suara rendah.

Sawitri diam. Semakin  kacau benaknya.

“Katakan kepadaku bahwa cintamu lebih luas dan lebih besar dari seluruh alam semesta ini. Ayo katakan. Aku ada hadiah luar biasa untukmu!”

Sawitri tetap diam, lalu menggeleng.

“Apa? Kamu menggeleng? Katakan apa artinya itu!

Raja berteriak dengan suara parau.

“Ampun, Ayah, hamba tidak bisa mengucapkan kata-kata,”

“Kamu tidak mau mengatakan apa-apa?”

“Tidak, Ayah.”

“Astaga. Kalau kamu tidak mengatakan apa-apa, kamu juga tidak akan mendapatkan apa-apa. Dan kamu akan aku nyatakan memusuhi ayahmu. Dengarkah kamu?” Suara ayahnya semakin keras dan menggetarkan.

“Baiklah. Tetapi bolehkan hamba hanya menunjukkan isyarat,” bertanya Sawitri. “Silakan!”

Sawitri lalu memohon izin sebentar untuk pergi. Setelah diizinkan, putri bungsu itu lari ke dapur . Ia menaruhkan garam ke dalam cawan lalu dibawanya menghadap. Di depan ayahnya, cawan berisi garam itu diletakkannya, tepat di dekat kaki sang raja.

“Ini lambang cintamu padaku?”

“Ya, Ayah.”

“Kurangajar, kamu. Pergi!”

Semua mata tak berani menatap raja yang tengah murka.

“Prajurit,”  teriak raja,” seret Sawitri keluar istana.” Maka, lima prajurit menyeret si bungsu. Ia dibawa keluar dari ruang sidang umum. Kemudian, dengan kereta, si bungsu diasingkan ke dalam hutan.

Tiga hari  sesudah peristiwa itu, seluruh negeri dilanda peristiwa aneh. Garam menghilang dari dapur istana, dan dapur rumah-rumah penduduk. Diwarung-warung tak ada yang menjualnya. Kekacauan mulai timbul, sebab hidup menjadi hambar.

Tiba-tiba, datanglah utusan dari negeri tetangga bahwa raja di negeri itu berkenan datang membawa rombongan penari. Raja dan rombongannya akan menginap sepuluh hari. Ia minta agar dijamu masakan yang lezat.

Mendengar berita demikian, ayah ketiga putri itu pun  kebingungan. Walau pun di istana ada juru masak yang sangat lihai membuat makanan, apa jadinya masakan itu tanpa garam.

Maka teringatlah raja akan si bungsu. Ia sadar bahwa garam membuat hidup tidak hambar. Ini artinya, sebenarnya cinta si bungsu kepada ayahnya luar biasa, yakni berusaha menjaga agar hidup sang raja tidak hambar.

“Prajurit,” teriak raja, “Cari anakku Sawitri. Panggil kembali. Kalau ia menolak, aku akan menjemputnya sendiri dan meminta maaf kepadanya. Dialah kekasih sejati dan kelak akan aku angkat menjadi pengganti memerintah kerajaan ini.”

Lima puluh prajurit pun berangkat menjemput Sawitri, si bungsu yang sederhana dalam tingkah dan bicara, serta bertindak jujur sesuai dengan kata hatinya.

Begitu selesai raja mengakui kesalahannya, garam di dapur dan dimana-mana bermunculan kembali. Hidup tak lagi hambar, dan datangnya rombongan penari yang dipimpin raja dari negara tetangga dapat disambut dengan meriah.

Kesimpulan

Dongeng ini mengajarkan kepada kita bahwa sesuatu yang sederhana dan tampak tidak berharga ternyata memiliki arti penting bagi semua orang.

Hampir setiap orang cenderung mendewakan yang tampak hebat, walaupun belum memahami betul apakah cukup bernilai.


loading...
Kamu sedang membaca artikel tentang Dongeng Raja Dan Secawan Garam Silahkan baca artikel Alkisah Rakyat Tentang Yang lainnya. Kamu boleh menyebar Luaskan atau MengCopy-Paste Artikel ini, Tapi jangan lupa untuk meletakkan Link Dongeng Raja Dan Secawan Garam Sebagai sumbernya

0 Response to "Dongeng Raja Dan Secawan Garam"

Post a Comment

Cerita Lainnya