Di daerah Surakarta, ada sebuah tempat wisata namanya Grojogan Sewu, letaknya di Tawangmangu, di lerang Gunung Lawu. Di sebut grojogan karena di sana ada air terjun. Ada pun sewu, artinya seribu, memberikan isyarat bahwa penduduk setempat memandangnya sebagai air terjun besar. Namun, kalau dibandingkan Air Terjun Niagara, Grojogan Sewu pastilah tampak sangat kecil.
Untuk mencapai tempat itu, wisatawan harus berjalan cukup jauh, menuruni jalan setapak yang pada kanan dan kirinya tampak jurang-jurang dalam, tetapi keselamatan senantiasa terjaga.
Apabila orang pergi menuju ke Grojogan Sewu pada pagi hari, biasanya ada kupu-kupu beterbangan. Diantara kupu-kupu itu, ada yang tampak berpasangan. Bentuknya kecil, tetapi warna–warni sayapnya sangat indah.
Seorang tua, yang pekerjaannya menggembalakan kambing, punya sebuah dongeng tentang sepasang kupu-kupu sebagai berikut.
Alkisah di negeri antah-berantah, adalah seorang raja agung dan terkenal, namanya Raja Ngimran. Ia juga punya permaisuri yang cantik. Dari permaisuri itu, lahirlah seorang bayi perempuan dan kemudian tumbuh menjadi gadis yang elok parasnya. Adapun sebutannya adalah Dewi Rara Zita.
Pada suatu hari, Raja Ngimran bermimpi bahwa ada seorang pemuda, buruk wajahnya, kotor pakaiannya, datang menghadapnya. Pemuda itu mengatakan bahwa ia ingin sekali melamar Rara Zita. Raja sangat murka dibuatnya.
Ia menghunus kerisnya dan ingin menikam pemuda itu. Akan tetapi, sebelum ia sempat menyentuhkan senjata tajam pada kulit pemuda, sang Raja terbangun. Tepat saat itu, ayam jantan berkokok tiga kali. Termenung memikirkan mimpinya, Raja Ngimran tidak dapat tidur lagi. Tergolek saja ia diperaduan, hingga matahari menguak tabir pagi.
Pada malam berikutnya, mimpi itu datang lagi. Demikian terjadi selama tujuh malam berturut-turut, hingga akhirnya Raja Ngimran mengutus seorang punggawa memanggil ahli nujum kerajaan. Setelah diceritakan apa yang dialaminya, Raja bertanya kepada ahli nujum, adakah mimpi itu suatu isyarat untuk buruk. Ahli nujum dengan tenang menjawab bahwa mimpi hanyalah bunga tidur. Mungkin, Raja terlalu banyak memikirkan Dewi Rara Zita, sehingga angan-angan itu berubah menjadi mimpi.
“Benar juga, katamu.” Raja bertitah. “Aku memang sedang memikirkan siapa kira-kira jodoh putriku.”
Ahli nujum menjawab bahwa sebaiknya Raja Ngimran tidak memaksakan kehendaknya kepada Dewi Zita, sebab akan kurang baik akibatnya. Begitu selesai ahli nujum mengutarakan pendapatnya, seorang prajurit datang menghadap.
“Ada tamu dari Negeri Atas Angin,” kata prajurit sambil menghaturkan sembah.
“Suruhlah masuk dia,” titah Raja Ngimran.
Begitu tamu diminta menghadap, ternyata seorang raja muda. Elok parasnya, mewah gemerlapan pakaiannya, tetapi sorot matanya mengisyaratkan bahwa perangainya kejam. Raja muda itu mengutarakan maksudnya ingin melamar Rara Zita, untuk dijadikan permaisurinya.
Mendengar ucapan itu, ahli nujum memberi isyarat agar permohonan itu ditolak. Tetapi Raja Ngimran kurang paham dengan isyarat yang diberikan ahli nujum. Sebaliknya, sang raja malahan mengatakan bahwa ia akan berusaha membujuk putrinya.
Maka gembiralah hati raja muda itu. Kepada raja muda, Ngimran meminta agar menunggu di kerajaannya saja. Kelak akan ada utusan yang membawa surat persetujuan dan sekaligus rencana pernikahan.
Karena merasa putus asa, ahli nujum itu minta diri. Keesokan harinya, Raja Ngimran berkenan memanggil Rara Zita di persidangan harian. Kepadanya, Raja memberitahukan tentang datangnya lamaran dan persetujuannya yang telah diberikannya, mendengar uraian itu, Rara Zita menunduk. “Kamu tidak suka?”
Rara Zita tidak menjawab tetapi mengatakan bahwa sebenarnya ia sedang tidak enak badan. Ia memohon diperkenankan kembali ke kamarnya untuk tidur. Raja Ngimran pun memberikan izinnya. Begitu Rara Zita berdiri, tiba-tiba seorang prajurit memberitahu Raja bahwa salah seorang hamba mohon diberi izin menghadap. Raja seperti biasanya mengizinkannya. Alangkah terkejutnya tatkala melihat bahwa yang duduk di dapannya adalah pemuda seperti dilihatnya dalam mimpinya. Oleh karena itu, sebelum pemuda mengutarakan maksudnya, Raja Ngimran sudah mendahului memberikan jawabannya.
“Kamu pasti akan melamar putriku, bukan?”
“Benar, Paduka,” jawab pemuda miskin itu.
“Lamaranmu akan aku terima kalau kamu mampu membuatkan taman untuk putriku, lengkap dengan sejuta jenis bunga, dalam waktu satu alam,” titah Raja. “Kamu sanggup?”
“Hamba sanggup,” jawabnya.
Maka pemuda miskin itu mohon diri. Sebelum keluar dari tempat persidangan, ia melemparkan pandangan kepada Rara Zita, yang masih berdiri termangu di tempat itu. Mereka saling mengangguk, dan saling tersenyum. Raja pun menjadi gusar karenanya.
Pada malam harinya, Raja memanggil beberapa orang prajurit untuk mencari keterangan siapa sebenarnya pemuda itu. Dikatakan oleh mereka, pemuda itu memiliki kesaktian, yakini pada bajunya yang kotor itu. Lalu mereka merencanakan suatu cara bagaimana dapat menggagalkan usaha pemuda untuk membuat taman indah dengan sejuta bunga. Beberapa prajurit diminta menguntitnya.
Menjelang tengah malam, prajurit melihat si pemuda tengah bersamadi di bawah pohon besar, dialun-alun. Lalu pemuda itu melepaskan bajunya dan disembunyikan di bawah pohon itu, diantara akar-akar yang tampak menyembul dipermukaan tanah.
Seketika, ia berubah menjadi seekor kupu-kup, lalu terbang tinggi menuju halaman puri, tempat Rara Zita tinggal. Kupu-kupu itu melayang-layang, dan dalam beberapa saat, seluruh halaman berubah menjadi taman yang indah sekali dengan sejutan bunga semerbak mewangi.
Pada saat yang bersamaan, prajurit segera mengambil baju kotor pemuda dan membakarnya cepat-cepat. Tatkala kupu-kupu itu kembali ke pohon rindang, didapatinya bajunya sudah lenyap, telah berubah menjadi abu. Kupu-kupu itu tak bisa kembali lagi menjadi manusia.
Pagi harinya, Rara Zita sangat bersuka cita tatkala melihat taman yang indah itu kelak akan menjadi suaminya karena telah memenuhi permintaan ayahnya. Tetapi betapa terkejutnya ia tatkala mendengar berita dari inang pengasuh bahwa prajurit telah membakar pakaian pemuda itu. Terbayang, mungkin pemuda itu juga sudah ikut terbakar, maka, berlianglah air matanya.
Sementara itu, Raja Ngimran merencanakan mempercepat pernikahan Rara Zita dengan raja muda. Undangan dikirimkan ke seluruh penjuru dunia. Mulailah disiapkan berbagai hiburan yang akan disajikan untuk penduduk selama empat puluh malam. Pesta pora akan diselenggarakan bagi para tetamu. Tetapi Rara Zita sedih pilu. Di dalam kamarnya, ia tersedu.
Tiga hari menjelang pernikahan, pada pagi hari sebelum matahari tampak memancarkan cahaya ke bumi, kupu-kupu itu masuk ke dalam kamarnya lewat jendela yang semalaman dibuka. Kupu-kupu itu hinggap pada rambut yang tergerai di telinganya.
“Pejamkan mata, kekasihku,” bisiknya.
Paham akan isyarat itu, Rara Zita memejamkan matanya. Seketika ia pun berubah menjadi kupu-kupu.
Keduanya beterbangan diantara bunga-bunga di taman, kejar-mengejar, bagaikan sepasang kekasih yang tengah bercanda. Mereka hanya saling mengerling, tak pernah bersentuhan, selama-lamanya.
Kesimpulan
Wajah rupawan, kekayaan berlimpah, seperti dimiliki daya tarik. Sebaliknya, kesederhanaan, ketulusan dan kesungguhan serta kemampuan dapat memikat hati seseorang.

0 Response to "Dongeng Sepasang Kupu Kupu"
Post a Comment