Legenda Pan Balangtamak

Pan Balang tamak agak sombong perangainya. Ia jarang mau bergaul dengan penduduk desanya dan memiliki akal yang licik. Karena sifatnya itu, ia kurang disenangi oleh kepala desa dan penduduk desanya.


Pada suatu hari kepala desanya mencari alasan agar dapat menghukum Pan Balang tamak dan sekaligus memperbaiki sifatnya yang kurang baik, kepala desa mengadakan rapat desa.

Kami ingin menyampaikan titah raja agar besok pagi semua laki-laki desa ini berkumpul di balai desa. Setiap orang diwajibkan membawa anjing yang galak. Raja besok pagi bermaksud hendak berburu ke hutan bersama-sama dengan rakyat beliau. Kita harus berangkat pagi-pagi sekali setelah ayam jantan berkokok dan turun mencari makan. Mereka yang berani melanggar dan tidak hadir pada hari dan waktu yang telah ditentukan akan menerima hukuman denda, kata kepala desa dalam rapat desa.

“Sanggupkah kalian?” Sanggup !”

Keesokan harinya seluruh penduduk laki-laki desa beserta raja telah berkumpul dan siap untuk berangkat pada waktu yang telah ditentukan. Hanya Pan Balang tamak seorang diri yang belum hadir, sedang rombongan sudah hendak berangkat.

Telah terbayang dalam pikiran mereka bahwa sekali ini Pan Balangtamak pasti tidak dapat luput dari hukuman denda yang akan dijatuhkan oleh raja. memang sebenarnya saat itu Pan Balangtamak masih berada di dalam pondoknya. Dengan malas dan perasaan enggan  duduk di bawah, di dekat kandang ayam. Ia menunggu ayamnya berkokok dan turun mencari makan. Ayam itu adalah milik satu-satunya, seekor ayam betina yang sedang mengerami telur-telurnya. Tentu saja ayam betina itu tidak dapat berkokok. Ayam betina yang sedang mengeram, tidak mungkin turun dari sarangnya untuk mencari makan pagi. Pada waktu udara masih terlalu dingin, ayam betina itu baru berkotek dan turun dari sarangnya untuk mencari makan setelah hari makin tinggi.

Setelah melihat ayamnya turun, barulah Pang Balangtamak berkemas. Ia berangkat menyusul teman-temannya berburu ke hutan sambil menggendong anak anjing yang kurus. Di tengah jalan ia bersua dengan sebagian kawan-kawannya yang baru pulang dari berburu. Melihat Pan Balangtamak, kawan-kawannya ada yang mencemoohkannya. Namun, sedikitpun ia tidak menghiraukan ejekan kawan-kawannya itu.

Setibanya di tempat perburuan, dengan diam-diam Pan Balangtamak melemparkan anak anjingnya ke dalam rumpun bambu berduri. Anak anjing itu meraung-raung kesakitan karena tertusuk dengan duri bambu.

Mendengar raungan itu, pemburu-pemburu lainnya segera lari ke arah umpun bambu. Di sana mereka melihat Pan Balangtamak sedang menimang-nimang anak anjingnya, serta membersihkan darah dari luka anjing itu.

Mengapa anjingmu itu? Tanya kepala desa. “Oh, Pak, ia baru saja berkelahi dengan seekor babi hutan yang amat besar,” bualnya kepada kepala desa. “Karena anjing saya ini kecil, ia terpental diseruduk oleh babi hutan itu.”

Senja hari mereka kembali ke desa tanpa memperoleh sesuatu apa pun. Sebelum pulang ke rumah masing-masing, kepala desa berpesan kepada penduduk, Kalian jangan lupa besok pagi menghadiri rapat dibalai desa, untuk membicarakan kegiatan-kegiatan yang harus kita lakukan. Selain itu juga untuk menghukum Pan Balangtamak yang telah berani melanggar titah raja. “Baik, pak,” jawab mereka.

Setiba di rumah, Pan Balangtamak segera menyuruh istrinya agar membuat kue ketan yang disebut abug iwel. Kue itu dipilin-pilin agar menyerupai tahi anjing. “Untuk apa ini, Pak?” tanya istrinya.

Aku mau mengolok-olok kepala desa. Aku ingin menunjukkan bahwa Pan Balangtamak lebih cerdik dari pada penduduk desa. Bahkan, lebih cerdik dari pada raja sekalipun.

Keesokan harinya Pan Balangtamak bangun pagi-pagi sekali. Ia lalu menuju ke balai desa, sementara orang lain belum ada yang datang. Ia membawa abug iwel yang telah dipersiapkan malam sebelumnya.

Abug iwel yang berbentuk tahi anjing itu diletakkan di pojok dan dibawah tiang balai desa. Di sekitar kue-kue itu dituangi air agar disangka orang air kencing anjing. Sesudah ia meletakkan kue-kue itu Pan Balangtamak pulang ke pondoknya untuk mandi dan berganti pakaian, sehabis itu, ia kembali ke balai desa untuk menghadiri rapat desa.

Ketika Pan Balangtamak tiba, balai desa sudah penuh pengunjung. Pan Balangtamak segera duduk di antara hadirin. Setelah rapat dibuka oleh kepala desa, dan sesudah membicarakan kegiatan-kegiatan yang akan dilakukan desa, akhirnya tibalah giliran untuk mengadili Pan Balangtamak.

“Pan Balangtamak” kata kepala desa, engkau tidak mematuhi perintah raja. Oleh karena itu, engkau harus menerima hukumannya, yakni membayar denda.”

“Tidak! Saya tidak mau membayar denda itu, karen saya memang tidak bersalah sedikit pun.” Tidak! Engkau tetap bersalah. Cukup banyak alasan saya untuk menghukummu, Pan Balangtamak,” tukas kepala desa.

Saya sudah mematuhi titah raja sesuai dengan apa yang dikatakan oleh kepala desa, yaitu berkumpul di balai desa setelah ayam berkokok dan turun dari kandang mencari makan. Akan tetapi, Pak, saya hanya mempunyai seekor ayam betina yang kebetulan sedang mengeram. Ketika ayam saya turun dari sarangnya dan berkotek, hari telah siang. Saya langsung datang ke balai desa, tetapi sudah terlambat. Jadi, siapakah yang bersalah? Sudah tentu yang memerintah, Pak.  

Demikian alasan Pan Balangtamak kepada kepala desa. Kepala desa dan seluruh hadirin tidak mempunyai dalih lain. Pan Balangtamak dibebaskan dari semua tuntutan. Setelah itu, dengan lancang dan congkak Pan Balang Tamak menantang kepala desa dan seluruh hadirin untuk bertaruh.

Di sini banyak tahi anjing, kata Pan Balangtamak sambil menunjuk ke kue abug iwel yang berceceran disana-sini. Kalau ada yang berani makan, kuberi hadiah uang sepuluh ringgit.

Kalau engkau berani memakan tahi anjing ini. Pan Balangtamak, engkau akan ku bayar dua puluh ringgit, tantang kepala desa sambil mengejek.

Mendengar tawaran ini, Pan Balangtamak dengan berpura-pura jijik memakan semua tahi anjing yang sebenarnya kue ketan itu. Melihat itu banyak hadirin yang menjadi mual. Pan Balangtamak menang bertaruh.

Dengan hati gembira Pan Balangtamak pulang sambil mengantongi uang kemenangan. Ia telah berhasil memperdaya kepala desa dan penduduk lainnya.

Kesimpulan

Cerita ini dapat kita golongkan ke dalam legenda karena penduduk di pedesaan Bali menganggap tokoh yang beragama Pan Balangtamak benar-benar pernah hidup. Di desa Nongan di daerah Rendang, Karangasem, malah ada pura yang disebut Pura Pabianan untuk memujanya.

Di Bali Pan Balangtamak dianggap sebagai pahlawan rakyat kecil karena ia berani melawan kekuasaan. Menariknya karena ada juga di daerah-daerah lain di Indonesia, bahkan di seluruh dunia.

Tokoh pahlawan rakyat yang pandai melucu ini di daerah Sunda adalah si Kabayan, di daerah Dayak Ngaju, Kalimantan Tengah, adalah Singa Rewa, orang Islam menyebutnya Abunawas atau Asruddin Effendi, dan di Jerman orang mengenal Tyl Eulenspegel.

Cerita ini bagus karena memperingatkan kita bahwa apabila telah menjadi orang yang berkuasa, janganlah menindas rakyat jelata. Di antara mereka pasti akan muncul seorang yang akan membalas ketidakadilan itu. Tuhan tidak buta akan ketidakadilan yang kita perbuat terhadap sesama makhluknya.


loading...
Kamu sedang membaca artikel tentang Legenda Pan Balangtamak Silahkan baca artikel Alkisah Rakyat Tentang Yang lainnya. Kamu boleh menyebar Luaskan atau MengCopy-Paste Artikel ini, Tapi jangan lupa untuk meletakkan Link Legenda Pan Balangtamak Sebagai sumbernya

0 Response to "Legenda Pan Balangtamak"

Post a Comment

Cerita Lainnya