Dongeng di bawah ini mengenai seekor anjing yang bersahabat dengan seekor kambing di daerah Batur, Kintamani. Konon waktu itu yang mempunyai tanduk itu bukan kambing, melainkan anjing, keadaan ini membuat iri hati si Kambing.
Pada suatu hari si Kambing mendapat undangan menghadiri pesta. Agar menjadi gagah, ia ingin meminjam tanduk kepada si anjing.
“Sahabatku, aku ingin meminjam tandukmu supaya aku lebih kelihatan gagah dari pada sekarang”, kata si Kambing.
“Boleh saja, tetapi ingat, setelah usai pesta engkau harus lekas-lekas mengembalkannya kepadaku. Sewaktu-waktu aku akan memerlukannya.” “Tentu saja aku segera mengembalikannya, untuk apa kutahan lama-lama.”
Gagah sekali si Kambing mengenakan tanduk pada kepalanya. Akan tetapi kepercayaan penuh yang diberikan si Anjing telah disalah gunakan oleh si Kambing. Pesta telah usai, tetapi tanduk si Anjing belum juga dikembalikan, malah si Kambing selalu menghindari si Anjing. Jika saja ia melihat si Anjing, si Kambing akan lari jauh.
Akhirnya si Anjing bertemu muka dengan si Kambing. Ia langsung bertanya. “Sahabatku Kambing mana tandukku? Aku amat membutuhkannya.” Kambing tidak menjawab, ia terus melarikan diri.
“Hai, Kambing, engkau benar-benar berlaku curang!” teriak si Anjing.
Melihat ketidak jujuran ini, si Anjing naik pitam. Si Kambing terus dikejarnya, sekalipun ia harus menyeberangi danau. Ternyata si Kambing bukan hanya pandai berlari, tetapi juga pandai berenang.
Bagaimanapun kencangnya lari si Kambing, ia bukan tandingan si Anjing. Tatkala ia tiba di pantai, si Anjing sudah berada tepat di belakangnya. Si Anjing segera menggigit keras-keras ekor Kambing. Terasa ekornya digigit, dengan seluruh tenaganya si Kambing berontak untuk menghindarkan diri.
Si Kambing dapat lolos juga, walaupun ekornya sudah putus, setelah berhasil membebaskan diri, si Kambing pun segera menghilang di antara semak-semak. Si Anjing tidak berhasil menemukan, apalagi menangkap si Kambing.
Nah, sejak itu keturunan si Kambing terus memiliki tanduk dan ekornya pendek. Sedangkan keturunan si Anjing tidak bertanduk lagi, tetapi berekor panjang.
Kesimpulan
Cerita ini dapat di golongkan sebagai dongeng karena penduduk Trunyan sekarang tidak menganggap cerita ini benar-benar terjadi. Namun, pada zaman dahulu cerita ini pernah menjadi legenda. Buktinya ada suatu tempat di Desa Kedisan, yang terletak di sebelah barat Embah, yang diberi nama Seket, artinya “Butung.”
Menurut kepercayaan penduduk, di sanalah si Kambing kehilangan ekonya karena digigit si Anjing pada waktu mendarat dulu. Cerita ini bagus karena memberikan pelajaran bahwa kita tidak boleh menyalahgunakan kepercayaan yang diberikan orang lain, apalagi jika orang itu adalah kawan karib kita.

0 Response to "Dongeng Anjing Tidak Bertanduk Dan Kambing Berekor Pendek"
Post a Comment