Pan Kasim seorang miskin. Ia mempunyai seorang istri, tetapi tidak mempunyai anak seorang pun. Mereka tinggal di sebuah gubuk yang sudah reyot. Namun Pan Kasim tetap tawakal sehingga tidak pernah merasakan kepapaannya. Untuk menyambung hidupnya sehari-hari ia mencari kayu bakar di hutan.
Ketika suatu hari Pan Kasim mencari kayu bakar di hutan, ia menemukan lubang yang di atasnya tertutup rapat oleh pokok pohon yang baru tumbang. Dari dalam lubang itu terdengar olehnya suara orang yang sedang meratap. “Hai, Pan Kasim, tolonglah singkirkan batang kayu yang merintangi jalan masuk ke tempat kediamanku.
Pan Kasim amat kaget ketika melihat bahwa yang berbicara itu seekor ular besar. Pan Kasim tidak berani mendekati. Ia amat takut, tetapi setelah dipikir-pikir akhirnya ia memberanikan diri untuk melakukannya, apalagi setelah mendengar ular itu kembali berkata, “Pan Kasim, janganlah engkau takut menolong saya, akan saya penuhi segala yang engkau minta kepadaku. Tolonglah saya….Pan Kasim.”
Setelah kayu besar itu disingkirkan, sang ular segera menanyakan apa yang menjadi keinginan Pan Kasim sebagai upah jerih payahnya.
“Sang ular, saya sudah lama hidup menderita. Kini saya pun ingin menjadi orang kaya, orang yang berkecukupan,” kata Pan Kasim.
Pan Kasim, engkau akan menjadi orang kaya dan berkecukupan,” jawab sang ular.” Sekarang pulanglah segera.”
Setiba di rumah, di dapatinya bahwa rumahnya telah berubah menjadi rumah orang kaya. Istrinya menyambutnya dengan mengenakan pakaian yang indah-indah sebagai layaknya orang kaya.
Mula-mula Pan Kasim dan istrinya merasa puas menjadi orang kaya. Hidup yang serba mewah dan berkecukupan, tetapi kemudian timbullah iri hati kepada raja, yang hidupnya melebihi mereka. Mereka ingin hidup seperti raja, sebab selain kaya, raja juga berkuasa dan disegani oleh orang.
Atas desakan istrinya, akhirnya Pan Kasim pergi lagi menemui ular ke dalam hutan. Pan Kasim memohon agar dapat menjadi raja. “Kalau itu pintamu, Pan Kasim, sekarang engkau menjadi raja,” kata ular itu.
Seperti masa yang lalu, mula-mula Pan Kasim dan istrinya merasa sangat bahagia karena dapat menjadi raja. akan tetapi kemudian mereka pun mulai bosan. Istrinya mulai merengek lagi. Karena ingin menuruti permintaan istrinya, Pan Kasim kembali pergi ke dalam hutan. Ia menemui sang Ular agar dijadikan matahari. Sebab ternyata matahari lebih berkuasa dari pada raja dan siapa pun.
Mendengar permintaan ini sang Ular menjadi sangat murka. Permintaannya itu bukan saja ditolak tetapi Pan Kasim dan istrinya dikembalikan menjadi miskin seperti semula.
Kesimpulan
Cerita ini dapat kita golongkan ke dalam dongeng. Penduduk di Kasiman pada masa ini menganggap bahwa semua peristiwa ini benar-benar pernah terjadi. Dari nama Kasim kita dapat menduga bahwa cerita ini datang dari luar Bali. Hal ini adalah gejala wajar yang dialami oleh kebudayaan Indonesia yang sejak lama telah mengalami persentuhan dengan kebudayaan-kebudayaan besar seperti , Hindu, Islam, Han (Cina) dan Ero-Amerika.
Di Eropa ada juga versi dongeng Pan Kasim dengan ular ini dengan judul “Nelayan dan Istrinya.” Dongeng ini indah karena membawa pesan kepada kita agar jangan mempunyai sifat loba dan tidak mengenal kepuasan, karena sifat itu pada akhirnya akan menyukarkan diri kita sendiri.

0 Response to "Dongeng Pan Kasim Dan Ular"
Post a Comment