Dongeng Mengenai Tikus I Cuit

I Cuit ialah nama seekor anak tikus. Ia sangat dimanjakan oleh induknya. I Cuit dilarang ke mana-mana. Ia hanya disuruh bersenang-senang saja di liangnya sambil makan sekenyang-kenyangnya.

Setiap hari induknya keluar masuk mencari makan. Makanan yang dapat tahan lama, disimpan baik-baik oleh induknya sebagai persediaan masa depan. Banyaklah sudah makanan yang ditimbunnya sehingga tenteramlah hatinya.

Pada suatu hari induknya sakit keras I Cuit sangat sedih. Ia tidak mengetahui apa yang harus diperbuatnya. Tiap hari penyakit induknya makin parah. Setelah mengetahui bahwa akhir hayatnya hampir tiba, dipanggilnya I Cuit tersayang untuk diberi petuah terakhir.

“Anakku I Cuit, rupanya penyakit ibu sudah tidak dapat disembuhkan lagi. Telah tiba waktuku untuk meninggalkan engkau selama-lamanya, anakku.”

“Sedih benar hatiku jika aku ingat engkau akan hidup sebatang kara. Namun, kehendak Sang Hyang Widi-Wasa tidak dapat kita elakkan.”

“Anakku, sepeninggal ibu nanti, baik-baiklah engkau menjaga dirimu. Kita bangsa tikus mempunyai banyak musuh.”

Siapa sajakah musuh bangsa kita itu, ibu? Tanya I Cuit.”Di antara musuh kita yang amat berbahaya ialah manusia dan kucing.”  “Mengapa kucing ibu?”

“Bangsa kucing senang makan daging bangsa tikus. Ia suka menerkam kita. Rupanya dahsyat, mata dan penciumannya sangat tajam. Jika ia berjalan, tidak kedengaran. Ia keluar mencari mangsa pada malam hari. Anakku, sayang sekali engkau belum pernah melihatnya. Engkau belum pernah keluar dari liang ini.” Kata induk I cuit.


“Ya. Ibu, saya mengerti, saya mengerti, setelah diam sejenak, induk tikus melanjutkan nasihatnya.

“Manusia yang hidup di Bali, tidak gemar memakan daging kita, tetapi mereka gemar sekali membunuh bangsa kita. Akalnya sangat banyak. Bila kelak engkau mencium bau benda yang sedap, janganlah segera engkau makan.”

Mengapa begitu ibu? Tanya I Cuit kepada induknya. Mungkin sekali itu hanya siasat manusia untuk menangkap kita. Biasanya manusia suka memasang perangkap tikus, yang disebut jebak. Bentuknya seperti rumah kecil yang terbuat dari anyaman kawat. Rumah kecil itu berpintu. Di dalamnya diisi umpan yang enak-enak.

Bila kita kurang bijksana, pasti kita akan tertangkap di dalamnya. Bila engkau menemukan rumah semacam itu, hendaknya engkau segera menghindarinya. Itulah nasihatku, anakku, inilah yang harus engkau pegang kuat-kuat agar engkau selamat dalam menempuh lautan kehidupan di dunia ini.

I Cuit mendengarkan nasihat induknya sambil menangis tersedu-sedu. Ia tidak kuasa mengeluarkan sepatah kata pun. Induknya melanjutkan pemberian nasihatnya.

Untuk sementara waktu engkau tidak usah takut kekurangan makanan. Persediaan makananmu masih cukup banyak. Namun, hendaknya mulai hari ini engkau mulai belajar mencari makanan sendiri. Engkau baru boleh menggunakan persediaan atau simpanan itu, apabila engkau gagal mendapatkan makanan. Ingatlah pepatah yang berbunyi. “kalau ada jangan dimakan dulu.” Itulah semboyan Ibu. Oleh karena itu, kita selamat sampai hari ini.

Setelah mengucapkan kata-kata itu, induknya jatuh pingsan, tidak sadarkan diri. I Cuit  pun mencuit-cuit sambil memanggil-manggil induknya, “Ibu,,,ibu…ibu, apa jadinya aku ini?.

Namun untung tidak dapat diraih, takdir tidak dapat ditolak. Induknya tidak sadarkan diri lagi dan kemudian menghembuskan napasnya yang terakhir.

I Cuit pun merawat jenazah induknya sebaik mungkin, kemudian dibakar sesuai dengan adat pemakaman Hindu Bali.

Kini I Cuit hidup sebatang kara. Ia mencoba keluar dari liangnya untuk mencari makan, tetapi ia takut. Keluar sebentar lalu segera masuk kembali. Demikianlah tingkah lakunya sebagai seorang yang tidak mempunyai pengalaman apa-apa.

Setiap hari ia terpaksa harus memakan persediaan yang telah disediakan oleh ibunya untuk masa darurat. Akhirnya persediaan itu habis juga.

Dalam keadaan gawat ini, ia memaksakan diri untuk keluar dari liangnya dan pergi ke tempat yang lebih jauh. Karena selama pengembaraannya, ia tidak menemukan bangsa kucing seperti yang dikatakan oleh induknya, Ia pun mulai meragukan keterangan induknya.

“Ah, mungkin ibu hanya menakut-nakuti aku saja, begitu pikirnya. Kini makin berani ia berjalan ke sana-kemari dan bersikap kurang hati-hati. Takdir tidak dapat ditolak.

Suatu malam setelah sehari-harian ia tidak memperoleh makanan, tiba-tiba diciumnya bau yang sangat sedap. Bau dendeng ! Dalam keadaan sangat lapar sukar sekali baginya untuk tidak mencari sumber bau sedap itu. Tiba-tiba ia melihat sepotong dendeng tergantung di dalam sebuah rumah kecil yang terbuat dari anyaman kawat.

“Inilah yang dinamakan jebak?” katanya di dalam hati. Tanpa pikir panjang I Cuit masuk ke dalam rumah kawat itu. Ia menarik dendeng yang digantung di sana. Baru saja ditariknya, pintu masuknya pun segera tertutup rapat-rapat I Cuit sangat terkejut, sesal pun tidak ada gunanya.

Keesokan harinya matilah I Cuit dibunuh oleh manusia pemasang perangkap.

Kesimpulan

Cerita ini tergolong ke dalam dongeng. Ya, tidak ada tikus yang dapat berbicara, tetapi dongeng ini indah sekali karena mengandung suatu kebijaksanaan. Ia mengajarkan kepada kita, agar jika kita mempunyai anak, janganlah kita terlalu memanjakannya dan janganlah terlalu melindunginya dari kesukaran hidup di dunia ini. Anak yang terlalu dimanjakan dan dilindungi akan menjadi seorang yang kurang berpengalaman sehingga menyukarkan kehidupannya kelak.


loading...
Kamu sedang membaca artikel tentang Dongeng Mengenai Tikus I Cuit Silahkan baca artikel Alkisah Rakyat Tentang Yang lainnya. Kamu boleh menyebar Luaskan atau MengCopy-Paste Artikel ini, Tapi jangan lupa untuk meletakkan Link Dongeng Mengenai Tikus I Cuit Sebagai sumbernya

0 Response to "Dongeng Mengenai Tikus I Cuit "

Post a Comment

Cerita Lainnya