Dongeng I Tiing Dan I Glagah

Alkisah ada dua orang anak kakak beradik, yang tua bernama I Tiing (si Bambu) dan adiknya bernama I Gagah (si rumput glagah). Mereka sangat miskin dan sejak kecil telah ditinggal mati oleh ayah bundanya.


Warisan yang ditingalkan orang tuanya hanya berupa alat-alat dapur yang sudah bekas pula. Untuk melewatkan hari-harinya, hidup mereka hanya bergantung pada sisa-sisa beras yang berhasil mereka kumpulkan di tempat orang menumbuk padi.

Pada suatu hari I Tiing berkata kepada I Glagah, “Glagah! Sebaiknya kita pergi saja dari sini. Kita pindah ke pantai saja. Di sana dengan mudah kita dapat menangkap ikan.”

“Ya! Ke mana engkau pergi, aku turut saja,” jawab I Glagah.

Lalu pergilah mereka ke pantai. Bila tiba musim panen, kembalilah mereka ke desanya untuk membantu orang mengetam padi. Bila musim panen telah berlalu, mereka kembali mencari sisa-sisa beras yang tercecer di tempat orang menumbuk padi.

Ketika sedang mengail, mereka berhasil menangkap seekor ikan sebesar paha orang dewasa. Ikan itu tidak dimakan, melainkan dipelihara dengan telaten sekali.

Pada suatu waktu, ketika mereka pergi membantu orang di sawah, pondoknya di tepi pantai yang sedang kosong itu dimasuki orang. Dengan tega orang itu membunuh ikan mereka untuk dimakan dagingnya. Sisa ikan yang ditinggalkan hanya sisik dan tulangnya saja. Pedih sekali hati kedua anak miskin itu. Sambil menangis mereka berkata, “Oh dewa, siapakah yang membunuh ikan kami? Sampai hati benar ia!

Keesokan harinya berkata I Tiing kepada I Glagah. “Glagah! Sebaiknya kita pergi saja dari sini, sukar sekali hidup di sini. Mempunyai barang sedikit saja, dicuri orang.”

Jawab I Glagah, kemana engkau pergi, ke sana aku turuti!

Maka berangkatlah mereka meninggalkan daerah itu. Di tengah jalan mereka menemukan sebuah batu ceper. Di sanalah mereka berhenti dan mendirikan pondok peneduh mereka.

Dalam perpindahan ini, mereka tidak lupa membawa serta sisik dan tulang ikannya. Semua itu mereka tanam di samping pondoknya. Aneh bin ajaib, di tempat mereka menanam sisik dan tulang ikan itu tumbuh sebatang pohon emas yang amat besar. Dengan menjual daun-daun emasnya, kedua kakak beradik itu dapat hidup berkecukupan.

Pada suatu hari lewatlah seorang raja yang sedang berburu. Dilihatnya pohon emas itu dan dimintanya kepada I Tiing dan I Glagah. Permintaan itu akan diluluskan apabila I Tiing dan I Glagah diangkat menjadi pembantu terdekat raja.

Syarat itu segera diterima oleh raja. sejak itu kedua kakak beradik itu hidup dengan bahagia seperti anak-anak raja.

Kesimpulan

Cerita ini dapat kita golongkan ke dalam dongeng. Orang tidak menganggap bahwa peristiwa itu benar-benar pernah terjadi.

Walaupun demikian, dongeng ini sangat populer, karena selalu mengingatkan kepada kita bahwa Tuhan itu Maha Pengasih. Ia tidak akan melupakan umat-Nya yang sedang dalam percobaan, asal mereka selalu tawakal.


loading...
Kamu sedang membaca artikel tentang Dongeng I Tiing Dan I Glagah Silahkan baca artikel Alkisah Rakyat Tentang Yang lainnya. Kamu boleh menyebar Luaskan atau MengCopy-Paste Artikel ini, Tapi jangan lupa untuk meletakkan Link Dongeng I Tiing Dan I Glagah Sebagai sumbernya

0 Response to "Dongeng I Tiing Dan I Glagah"

Post a Comment

Cerita Lainnya