Dahulu kala, di pantai barat Pegunungan Wulur Mahatus terdapat sebuah batu karang yang bagus bentuknya. Batu karang itu tidak dihiraukan oleh orang karena memang belum ada manusia di sekitarnya.
Suatu ketika di musim kemarau, cahaya matahari begitu menyengat sehingga batu karang itu mengeluarkan keringat. Pada saat itu pula, terciptalah seorang wanita yang cantik. Namanya Karema, ia berdiri sambil menadahkan tangan ke langit dan berdoa “O, Kasuruan opo e wailan wangko.” Artinya, “O Tuhan yang maha besar, jika kau berkenan, nyatakanlah di mana aku berada serta berikanlah teman hidup untukku.”
Setelah selesai mengucapkan doa, batu karang itu pun terbelah menjadi dua dan muncullah seorang wanita cantik Karema pun tidak sendiri lagi. Ia berkata kepda wanita itu, Karena kau tercipta dari batu yang berkeringat, engkau kuberi nama Lumimuut. Keturunanmu akan hidup sepanjang masa dan bertambah seperti pasir di pantai laut. Akan tetapi, kamu harus bekerja keras memeras keringat.
Pada suatu hari, Karema menyuruh putrinya yang cantik molek itu menghadap ke selatan agar ia hamil dan memberikan keturunan. Lumimuut pun melaksanakan perintah ibunya, tetapi tidak terjadi suatu apa pun. Karena ke arah selatan tidak berhasil, Lumimuut lagi disuruh menghadap ke arah timur, barat dan utara, hal ini pun tidak membawa hasil.
Kemudian, upacara diadakan lagi. Lumimuut disuruh menghadap ke arah barat yang sedang berembus angin kencang. Lama-kelamaan, setelah upacara selesai, badan Lumimuut menjadi lain, ternyata Lumimuut sudah hamil.
Selama hamil, Lumimuut selalu dijaga dan dirawat dengan penuh kasih sayang oleh Karema. Ketika saatnya tiba, Lumimuut pun melahirkan anak laki-laki yang diberi nama Toar. Toar pun diberi pengetahuan dan kemampuan seperti yang dimilki oleh Karema.
Pertumbuhan badan Toar sangat cepat, bentuk tubuhnya besar, kuat, kekar dan perkasa. Di belantara hutan, Toar tidak takut dan tidak dapat ditaklukkan oleh binatang anoa, babi rusa maupun ular.
Setelah Toar dewasa, berkatalah Karema kepada Toar dan Lumimuut. Sekarang sudah saatnya kalian berdua mengembara untuk mengelilingi dunia. Aku sudah menyediakan dua tongkat yang sama panjang. Tongkat untuk Toar terbuat dari pohon tuis dan tongkat untuk Lumimuut terbuat dari pohon tawaang. Kalau nanti dalam pengembaraan, kalian bertemu dengan seseorang baik pria maupun wanita membawa tongkat seperti ini, bandingkanlah dengan tongkat kalian. Kalau tongkat kalian sama panjang, berati kalian masih terikat keluarga. Akan tetapi bila tongkat itu berbeda dan tidak lagi sama panjang, kalian boleh membentuk rumah tangga. Semoga hal ini terjadi dan kalian akan menghasilkan keturunan. Keturunan kalian akan hidup terpisah oleh gunung dan hutan rimba. Namun akan tetap ada kemauan untuk bersatu dan berjaya.
Nuwu (amanat) Karema menjadi bekal bagi Lumimuut dan Toar dalam pengembaraan mereka Gunung dan bukit mereka daki. Lembah dan ngarai mereka lalui. Toar ke arah Utara dan Lumimuut kearah selatan. Tuis ditangan Toar bertambah panjang, tetapi tawaang di tangan Lumimuut tetap seperti biasa.
Pada suatu malam bulan purnama, ditengah kilauan sinar bulan, bertemulah Toar dengan Lumimuut. Sesuai dengan amanat Karema, mereka pun membandingkan tongkat masing-masing. Ternyata tongkat mereka tidak sama panjang lagi sehingga upacara pernikahan pun dilaksanakan. Bintang dan bulan sebagai saksi. Puncak gunung tempat pelaksanaan upacara tampak bagaikan bola emas, gunung itu kemudian dinamakan Lolombulan.
Setelah upacara pernikahan, mereka pun mencari Karema. Akan tetapi ia tidak ditemukan, kemudian mereka menetap di daerah pegunungan yang banyak ditumbuhi buluh tui (buluh kecil). Di sanalah mereka beranak cucu. Keturunan demi keturunan, kembar sembilan (semakarua siyou), dua kali sembilan. Kelahiran keturunan itu selalu disambut dengan bunyi siul burung wala (doyot) yang dipercaya sebagai petanda memperoleh limpah dan berkat karunia.
Kesimpulan
Cerita ini digolongkan pada legenda. Banyak penduduk Minahasa menganggap cerita ini sebagai suatu kebenaran, walaupun untuk membuktikan kebenarannya hampir tidak mungkin. Pesan moral yang terkandung dalam cerita ini adalah hendaknya kita ingat petuah orang tua. Selain itu, walaupun kita wanita cantik atau pemuda perkasa, hendaklah kita selalu bekerja keras agar dapat hidup secara layak.

0 Response to "Toar Dan Lumimuut"
Post a Comment