Legenda Danau Tondano

Alkisah, beribu-ribu tahun yang lalu di daerah ini tegak berdiri sebuah gunung yang tinggi. Di sekitarnya terdapat suatu daerah yang berada dibagian selatan yang masing-masing dipimpin oleh seorang Tonaas selaku penguasa. Wilayahnya dibatasi dengan tumbuhan batas, yaitu tawaang yang dianggap keramat.


Tonaas yang berkuasa atas wilayah utara di lereng gunung itu hanya memiliki anak tunggal perempuan. Gadis ini berperawakan tinggi semampai. Wajahnya cantik berlesung pipi yang disebut kekendisan. Rambutnya mayang terurai hingga ke betis kakinya. Hidungnya pun mancung, bibirnya seperti delima merekah dan matanya agak cipit bersinar-sinar menambah kecantikan gadis ini. Disamping kecantikannya, dia juga sangat penurut perintah orang tuanya, dia pun diberi nama Marimbow.

Selanjutnya, Tonaas yang berkuasa atas wilayah selatan di lereng gunung itu memiliki pula anak satu-satunya, tetapi anak lelaki. Pemuda ini berbadan kekar, tinggi, dan berdada bidang. Oleh penduduk di kampungnya biasa disebut pemuda perkasa dan ganteng. Ia rajin bekerja dan patuh kepada ibu bapaknya, namanya Maharimbow.

Rupanya kedua Tonaas ini mempunyai masalah yang hampir sama, yaitu siapakah yang akan menjadi  pewaris kekuasaan nanti? Untuk Tonaas wilayah selatan masalah ini tidak sehebat wilayah utara, karena anaknya adalah perempuan. Hampir setiap hari ketika selesai berlibur atau bertani, bayangan pengganti pewaris kekuasaannya mengusik pikiran dan dirinya.

Suatu ketika, diajak anak gadisnya untuk bertukar pikiran. Setelah bercakap-cakap sekian lama, mengertilah Marimbow akan keinginan ayahnya. Kerena kepatuhan dan kesetiaan kepada ayahnya sangat kuat dan sekali-kali ia tidak membantah rencana ayahnya. Mulai saat itu, Marimbow harus menjadi seperti seorang laki-laki, baik sikap maupun berpakaian. Baju dan tudung kepala terkuat dari kulit kayu yang ditumbuk hingga menjadi halus dan mulus, berwarna coklat kemerahan. Tali-temali terkuat dari buluh jawa/taki yang dipakai untuk penghias badannya.

Saat itu pula Marimbow dan ayahnya melakukan Sumpah Marimbow. Dengan memegang tawaang di tangan kanannya serta diangkat ke atas dan di depan ayahnya. Sumpah Marimbow ini di angkat. Isinya ialah Marimbow tidak akan menikah selama ayahnya masih hidup. Sejak itu, gadis Marimbow melaksanakan tugasnya dengan selalu berpakaian pria dan memegang tombak di tangan kirinya.

Ternyata Sumpah Marimbow yang dilaksanakan oleh Tonaas wilayah utara juga dilaksanakan oleh Maharimbow dari wilayah selatan dengan Sumpah Tawaang. Isi sumpah tersebut tidak akan kawin dengan wanita siapa pun dan apa pun selama ayahnya masih hidup.

Jadi, Sumpah Marimbow dan Sumpah Tawaang sudah diikrarkan oleh keduanya kepada Opo Ompung sebagai sumpah yang tak boleh diingkari. Bila diingkari akan mengakibatkan hal yang tidak diinginkan. Hal ini pun di sadari oleh Marimbow dan Maharimbow bahwa pada saat dan kapan saja ketika mereka mengingkari sumpahnya, musibah dan malapetaka akan menimpa mereka, cepat ataupun lambat.

Suatu hari ketika Marimbow pergi berburu, dilihatnya dari kejauhan di daerah dekat perbatasan utara, selatan seorang pria yang sedang tidur di bawah pohon beringin. Dengan tombak yang selalu berada di tangan kirinya, Marimbow maju ke arah pria itu dan langsung mengusir pria itu keluar dari wilayahnya.

Apa hendak dikata. Sambil membuang langkah seribu Maharimbow pun sempat melemparkan pandangan secara selintas ke wajah orang yang mengusirnya dengan penuh curiga. Menurut pendapat Maharimbow, sinar mata orang yang mengusirnya memancarkan kelembutan jiwa seorang wanita, bahkan keanggunan dan permohonan perlindungan dari seorang pria.

Peristiwa itu merupakan pertemuan pertama Maharimbow dengan gadis itu, di dadanya bergejolak suatu keinginan yang kuat untuk selalu berjumpa dengan permata itu.

Hari ke hari dengan membawa tombak di tangan kanannya, Maharimbow menuju daerah perbatasan. Hari pertama, kedua, ketiga hingga kedelapan rancananya untuk bertemu dengan orang yang pernah mengusirnya masih gagal. Hal ini tidak membuatnya putus asa walaupun ia hampir kecewa. Setelah menghitung-hitung hari pengupayaannya bertemu dengan Marimbow, tiba-tiba terdengar olehnya bunyi suara burung manguni sebagai pertanda kemenangan. Maharimbow pun bersukacita menyambut hari esok yang penuh harapan.

Keesokan harinya, Maharimbow pun dengan seluruh perlengkapannya menuju daerah perbatasan. Dengan langkah tegap, layaknya seorang perwira perang, Maharimbow maju terus. Tiba-tiba dari ketajaman matanya, ia melihat Marimbow sedang bersandar pada sebuah pohon yang megah dan kokoh itu.

  Maharimbow pun tertawa lebar tanpa suara, dan dalam hatinya berkata. “Mungkin dia sedang kelelahan.”

Hampir saja maharimbow tak dapat mengendalikan diri, akan tetapi, untunglah dengan sikap kesatria, perkasa dan sopan Maharimbow menyapa Marimbow, “Oh, engkau sendirian?”

Marimbow menganggukkan kepala seraya langsung bertanya, “Siapakah engkau dan dari manakah datangmu? Dengan suara seperti lelaki.

Namaku Maharimbow, dari wilayah selatan aku datang dan ayahku adalah Tonaas.”

Kalau begitu aku perlu menyatakan kepadamu bahwa ayahku adalah Tonaas dari wilayah utara dan aku diberi nama Marimbow.

Isi hati Maharimbow yang sudah terpendam selama sembilan hari pun tak dapat dibendung lagi. Segera secara terang-terangan dikemukakannya kepada Marimbow, “Aku harapkan kau bersedia menjadi sahabatku mulai saat ini.”

Pernyataan ini tidak segera mendapat sambutan. Malahan hanya mendapat jawaban bahwa aku sudah terlalu lama meninggalkan rumah dan biarlah kita nanti bertemu besok pagi di tempat ini. Dan dengan cepat dia membalikkan dirinya kemudian melangkahkan kakinya menuju rumahnya.

Maharimbow tanpa berkedip sekalipun, langsung saja membusungkan dadanya sambl menarik napas panjang. Mulutnya ternganga dan matanya tersorot kearah Marimbow yang telah meninggalkan tempat itu. Akankah kembali, Marimbow yang hendak dipikatnya dengan tulus hati ke dalam suatu persahabatannya? Dengan penuh harapan dan keyakinan yang sungguh, Maharimbow menunggu pertemuan selanjutnya. Tanpa disadarinya bahwa kelak persahabatan mereka membawa malapetaka. Memang batas wilayah dapat dipertahankan, tetapi relung hati manusia tak dapat dibendung dengan apa pun bahkan sumpah sekalipun.

Langit mendung, matahari tak tampak, terhadap awan putih, namun Marimbow tetap pada pendiriannya untuk berjalan menuju daerah perbatasan. Jauh berjalan tak terasa karena ia ingin segera bertemu dengan Maharimbow. Kira-kira pukul sembilan pagi, ia pun tiba di dekat perbatasan, tak jauh dari pohon beringin.

Ia pun terperanjat bercampur senang karena melihat Maharimbow sedang duduk di samping pohon tawaang dekat dengan batas wilayah.

Marimbow pun langsung bertanya. “Apakah yang sedang kau perhatikan?”  membuka pembicaraan dan mendekati batas wilayah. Tombak Maha rimbow berada didekatnya yang ditancapkan di tanah.

Barangkali engkau orang yang memerlukan perlindungan orang lain tentang lelaki, jawab Maharimbo tegas dan sinis.

Apakah kau meragukan kemampuanku melindungimu? lanjut Maharimbow

Pertanyaan dan pernyataan yang disampaikan oleh Maharimbow segera dijawab oleh Marimbow dengan sikap menantang. “Apakah kau mengira aku takut padamu putra selatan? Tidakkah kau lihat barang yang ada di tangan kiriku ini?

Aksi ini hanya menambah semangat Maharimbow untuk memancing keberadaan Marimbow apakah benar seorang wanita. Langkah demi selangkah dia maju mendekati batas wilayah. Hal ini sangat diperhatikan oleh Marimbow tidak berubah dan maju terus. Pada saat itu, Maharimbow pun berseru dengan nyaring. “Au. Kau sudah melewati batas,” sambil beraksi memainkan tombaknya dan mengacung-acungkan tombaknya seperti pemain kabasaran, akhirnya, tombak itu pun diarahkan ke arah Maharimbow, tetapi hanya menyamping.

Ternyata sikap ini dibalas oleh Maharimbow dengan sasaran kepala Marimbow. Karena Maharimbow seorang pemuda perkasa yang mahir menggunakan tombaknya, dia pun tidak tinggal diam. Dalam sekejap, tombaknya telah mendarat di belakang Marimbow dan tudungnya pun terlepas dan rambutnya pun terurai menghiasi tubuhnya yang cantik. Kedok ini telah terbuka. Maharimbow pun maju lagi mendekati  Marimbow. Tombak dari keduanya telah dilepaskan dari tangan mereka.  

Maharimbow pun merangkul Marimbow dan berkata merayu, Maafkan aku mencurigai keberadaanmu, bukan engkau, tetapi cara sikapmu suaramu dan pakaianmu.

Marimbow menyela dan mengemukakan siapa dan apa sebenarnya dia. Semuanya hanya karena menuruti kehendak ayahnya. Akhirnya keduanya duduk saling berdekatan. Maharimbow menyampaikan cita-citanya untuk mewujudkan persatuan kedua anak suku mereka.

Marimbow kagum akan cita-cita Maharimbow dan hatinyan pun berdebar untuk memilikinya. Hal ini di sambut oleh Maharimbow dengan tangan kanannya memegang tangan kiri Marimbow sebagai tanda persahabatan.

Marimbow hanya menundukkan kepala merasakan getaran hati sebagai aliran listrik saja yang sukar dipadamkannya, tetapi tidak berbahaya.

Apakah kau masih mau mengusir aku”? ataukah kau bersedia menjadi bukan hanya sebagai sahabat, melainkan penolongku?

Langsung pertanyaan-pertanyaannya di jawab lembut oleh Marimbow. “Bawalah saja aku ke mana pun yang baik menurut kehendakmu.

Kemudian mereka berjalan menuju pondok di wailayah selatan dan disanalah mereka mengikarkan janji sebagai suami-istri. Berdasarkan kesepakatan saling menghormati dan mengasihi sesamanya.

Sehari setelah mereka menjadi suami-istri, penduduk kawasan utara heboh. Tonaas pun bingung karena sudah semalam Marimbow tidak pulang. Bukankah anakku sudah bersumpah tidak menjadi istri siapapun? Rasa cemas dan gelisah timbul di hati Tonaas. “Mungkinkah anakku sudah melanggar sumpahnya?” Begitu banyak pertanyaan yang muncul di benaknya.

Sementara mereka berdua akan memasak, terjadilah gempa. Gerakan dahsyat di kawah kerak bumi ini disusul dengan letusan gunung api di wilayah itu. Baik wilayah utara maupun selatan semuanya musnah. Batu-batu bercampur api dan lahar panas, tersembur ke atas dan akhirnya turun ke berbagai jurusan.

Akibat letusan ini, terjadilah danau dan disebut “Danau Tondano” dan sungainya disebut pula “Teberan”. Namun Tondano terdiri dari tou berarti orang dan dano atau rano berart air. Tulor berarti juga air. Tou berarti orang, sedangkan lour juga berarti air. Jadi, sama-sama berarti orang air, maksudnya orang yang berada di sekitar air.

Kesimpulan

Cerita ini sebenarnya tidak pernah terjadi. Akan tetapi, orang percaya ketika gunung itu Meletus terdapat orang yang berbuat kesalahan. Biasanya, jika ada oang yang melawan adat-istiadat akan terjadi malapetaka. Maksud yang terkandung dalam cerita ini ialah hendaklah kita jangan melanggar kebiasaan yang baik, terutama soal moral, juga jika kita bersumpah dan melanggar sumpah akan menerima akibatnya.


loading...
Kamu sedang membaca artikel tentang Legenda Danau Tondano Silahkan baca artikel Alkisah Rakyat Tentang Yang lainnya. Kamu boleh menyebar Luaskan atau MengCopy-Paste Artikel ini, Tapi jangan lupa untuk meletakkan Link Legenda Danau Tondano Sebagai sumbernya

0 Response to "Legenda Danau Tondano"

Post a Comment

Cerita Lainnya