Alkisah Rakyat ~ Pada zaman dahulu di bumi Nusantara kita ini ada tiga orang raja bersaudara, yaitu Raja Indrapandita, Raja Indrasekar, dan Raja Layangsari. Raja Indrapandita berkuasa di Pulau Lombok, Raja Indrasekar berkuasa di Pulau Jawa dan Raja Layangsari berkuasa di Pulau Madura.
Raja Layangsari mempunyai dua orang anak, laki-laki dan perempuan. Anak laki-lakinya bernama Jayangsekar dan anak perempuannya bernama Ratna Ayu Windusari.
Raja Indrapandita mempunyai sembilan orang anak perempuan. Anak paling sulung bernama Denda Wingit, sedangkan anak paling bungsu bernama Ratna Ayu Wideradin. Paras Ratna Ayu Wideradin sangat cantik sehingga membuat iri kedelapan saudaranya. Untuk itu, Denda Wingit dan saudaranya yang lain menghasut ayahanda mereka agar Denda Wideradin, si bungsu tidak diperhatikan dan di sayang.
Ratna Ayu Wideradin pun dikucilkan disebuah pondok buruk betiang bambu di dalam taman bersama inang pengasuhnya yang bernama Rangda Sayoman. Pakaiannya hanya yang melekat di badan terbuat dari kain hitam kasar. Selendangnya terbuat dari kain tenun berwarna hijau yang sudah usang. Selendang itu dipakai untuk selimut tidur dan penutup dada. Makannya tidak tentu, sehari makan sehari tidak makan. Begitulah kesengsaraan Ratna Ayu Wideradin yang hidup di dalam taman. Ia dijuluki oleh Rangda Sayoman dengan nama Winangsia, artinya si putri yang tersia-sia. Lain halnya dengan kedelapan saudaranya. Mereka hidup penuh kemewahan, segala keinginan terpenuhi.
Raja Indrasekar yang berkuasa di Pulau Jawa mempunyai dua orang anak laki-laki. Anak sulung bernama Raden Witarasai yang menjadi putra mahkota sebab ia lahir dari permaisuri utama. Anak bungsu bernama Raden Kitapmuncer, anak dari pemaisuri kedua. Raden Kitapmuncer menjadi pangeran penawing atau pangeran kelas dua.
Kembali pada keadaan Ratna Ayu Wideradin alias Denda Winangsia. Pada suatu hari, ia minta kepada Rangda Sayoman untuk dibelikan dua lembar kertas. Harga kertas itu dua puluh lima kepeng. Rangda Sayoman yang sangat menyayangi Denda Winangsia segera pergi membeli kertas. Setelah itu, kertas pun diserahkan kepada sang putri. Denda Winangsia segera membuat lukisan dirinya pada kertas itu. Lukisannya sangat indah, persis keadaan aslinya.
Terlukislah wajah Denda Winangsia yang cantik jelita sedang duduk bersedih di pondoknya yang buruk. Pakaian di tubuhnya tampak lusuh dan lapuk. Di kertas kedua ditulisnya sebuah syair yang menuturkan kesengsaraan hidupnya terancam pula nama ayah dan ibunya serta kedelapan saudaranya.
Bukan main indahnya syair itu dan sangat memilukan hati orang yang membaca.
Pada saat sedang asyik melukis dan membuat syair, tiba-tiba datanglah angin kencang menyambar kertas itu. Angin membawa kertas itu terbang ke angkasa jauh melayang. Akhirnya kertas itu jauh di Taman Sari. Kerajaan Indrasekar. Kedua lembar kertas itu tersangkut di tepi pancuran mandi putra raja. Kebetulan putra Raja Indrasekar, Raden Witara sari pergi mandi bersama adiknya. Reden Kitapmuncer, para abdi dan pengiring lain ikut pula.
Sesampai di Taman Sari pergilah Raden Witarasari menuju pancuran. Gambar dan syair Denda Winangsia ditemukan Raden Witarasari. Lalu ia memperhatikan lukisan itu dan dibacanya syair yang tertera di kedua lembar kertas itu. Tidak terkira sedih hati Witarasari sampai ia tidak sadarkan diri, Raden Kitapmuncar segera menolongnya dan dibacanya pula surat itu. Tahulah ia bahwa Raden Witarasari pingsan karena sedih setelah mengetahui perihal sepupunya di negeri Indrapandita. Sudah lama ia mendapat kabar dari pada nakhoda kapal bahwa ada seorang putri raja yang amat cantik. Putri itu disia-siakan oleh ayahandanya karena selalu difitnah kedelapan saudaranya.
Setelah sadar, Raden Witarasari segera pulang ke istana untuk melapor kepada ayahandanya. Ia meminta kepada adiknya yang sakti. Kitapmuncer untuk dibuatkan sebuah kapal dagang yang besar. Raden Kitapmuncer menyanggupi kehendak putra mahkota. Kemudian Raden Kitapmuncer mengeluarkan cemeti wasiatnya. Sekali lecut terbelahlah alun-alun di depan istana menjadi sungai besar. Dan lecutan kedua tiba-tiba tercipta sebuah kapal dagang besar bertiang tiga. Haluannya berukir kepala singa lengkap dengan layar dan bendera. Kapal itu tidak ubahnya kapal dagang kompeni.
Raden Kitapmuncer lalu memerintahkan rakyatnya untuk menaikkan barang dagangan. Keesokan harinya, berangkatlah kapal itu dengan nakhoda Raden Kitapmuncer.
Setelah berhari-hari berlayar, sampailah mereka di negeri Indrapandita. Kitapmuncer turun ke darat menemui syahbandar. Ia menyurh syahbandar memberitahu raja bahwa kapal dagang besar telah datang membawa barang-barang dengan harga muah. Ia memperkenalkan diri dengan nama Nakhoda Jamal Malik dari negeri seberang.
Benarlah, pada keesokan harinya datanglah raja ke pantai bersama delapan orang putrinya. Raden Witarasari sengaja menyediakan sembilan kursi di pantai. Ketika ia meneropong ke pantai dan dilihatnya hanya delapan kursi yang terisi, tahulah ia bahwa memang benar Ratna Ayu Wideradin disia-siakan.
Ratna Ayu Wideradin alias Denda Winangsia menyuruh Rangda Sayoman pergi ke pantai untuk berbelanja. Karena uangnya hanya enam puluh kepeng, ia berpesan agar dibelikan barang berharga yang murah.
Jual beli di pantai itu sangat ramai. Raja membeli bermacam-macam barang mahal untuk delapan putrinya. Saat itu datanglah Rangda Sayoman ingin membeli barang berharga murah. Raden Kitapmuncar yang sakti segera tahu bahwa Rangda Sayoman adalah pengasuh Denda Winangsia. Ia kemudian cepat melapor ke kapal. Mendengar berita bahwa pengasuh Denda Winangsia mencari barang berharga murah sekitar enam puluh kepeng. Raden Witarasari langsung mengubah dirinya menjadi kera (dalam bahasa Sasak disebut monyeh).
Si Monyeh yang sudah dibayar Rangda Sayoman segera dibawa pulang ke Taman Sari. Alangkah senang hati Winangsia mendapat binatang mainan itu. Lagi pula si Monyeh pandai berkata-kata seperti manusia. Cara bicaranya lucu dan pintar. Para penjaga taman, Papuq Cungklik dan Amaq Buwuh, ikut senang. Putri Winangsia sangat sayang kepada si Monyeh, kemana saja ia pergi si Monyeh selalu dibawa. Mereka makan bersama, tidur bersama, dan pergi mandi bersama. Tidak sejenak pun si Monyeh terpisah dari dirinya.
Pada suatu malam, si Monyeh diam-diam pergi ke kapal. Ia menyuruh Raden Kitapmuncar membawa pakaian-pakaian yang indah ke Taman Sari. Denda Winangsia heran melihat pakaian-pakaian itu. Ia mengira si Monyeh bisa main sulap.
Mendengar berita bahwa Denda Winangsia mempunyai seekor kera yang sangat cantik, timbullah rasa iri kedelapan saudaranya. Denda Wingit menyuruh patih untuk mengambil kera itu di Taman Sari. Denda Winangsia tidak mau memberikan si Monyeh kepada siapa pun, walau ia dibunuh sekalipun. Para saudaranya semakin cemburu dan sakit hati. Mereka mengatur siasat dengan mengatakan bahwa ayahanda meminta mereka untuk menari bersama di pendapa. Winangsia diminta berpakaian sama seperti mereka. Jika tidak, ia akan dibunuh oleh patih. Tentu saja Winangsia sangat sedih menerima perintah itu. Ia tidak punya pakaian tari seperti kakak-kakaknya. Melihat Winangsia bersedih, si Monyeh segera membujuknya.
“Sabarlah, Putriku. Saudara Tuan ingin mencelakakan. Tuanku. Namun, Tuhan Mahatahu siapa yang lurus dan siapa yang bengkok hatinya,” kata si Monyeh.
Malam harinya, diam-diam si Monyeh pergi ke kapal. Ia memerintahkan para abdinya membawa pakaian tari dan harta benda lain yang tidak ternilai harganya kepada Denda Winangsia. Denda Winangsia disuruh memakai busana itu. Ternyata ia tampil sangat mempesona. Kedelapan saudaranya tercengang melihat penampilannya yang sangat anggun.
Pada suatu malam, ketika si Monyeh pergi ke kapal. Denda Winangsia menemukan mantel kera di dalam peti. Ia tahu bahwa mantel itu milik si Monyeh. Mantel itu dibakarnya. Tidak lama kemudian, datanglah sorang pangeran yang amat tampan. Ternyata, pangeran itu ialah Raden Witarasari, si kera palsu. Denda Winangsia sangat gembira ketika ia tahu bahwa si Monyeh adalah sepupunya yang menyamar menjadi kera. Akhirnya, keduanya hidup berbahagia.
Kesimpulan
Cerita ini memberi pesan kepada kita agar kita hidup rukun antar saudara. Jangan ada rasa saling iri dan saling dengki. Sifat iri dan dengki adalah perbuatan tidak baik dan tidak terpuji.

0 Response to "Si Monyeh"
Post a Comment