Alkisah Rakyat ~ Bibi Bangau bersarang di puncak pohon dadap duri di pinggir kali. Telurnya baru saja menetas. Ada dua ekor anaknya, jantan dan betina. Kedua anaknya itu sering minta makan sambil mengangakan mulut mereka yang tampak merah. Bibi Bangau sangat menyayangi mereka.
Setiap pagi, Bibi Bangau pergi mencari makan untuk kedua anaknya. Dia terbang menuju sawah dan telaga mencari ikan mujair, udang, lele, ikan gabus, kodok, atau apa saja yang dijumpainya.
Saat itu musim kemarau. Air sungai dan telaga banyak yang menyusut. Bibi Bangau akan mencari ikan di situ. Dia akan mengeringkan sisa air yang tergenang di ceruk-ceruk sungai. Setelah air ditimba dan kering, ikan yang ada di situ akan ditangkapnya.
Setelah terbang beberapa lama, sampailah Bibi bangau di sebuah ceruk sungai. Segera dia turun dan mulai mengaduk. “Buk…syer….buk syer!” dia menimba air dari ceruk. Wajah dan tubuhnya bermandikan keringat. “Buk syer ….Buksyer!” Ceruk itu hampir kering, ikan-ikan sudah mulai tampak berenang kebingungan, anak udang merayap, memanjat akar dan batu. Dari lubang-lubang batu terdengar bunyi ikan lele. Krokok-krokok! Semakin bersemangat Bibi Bangau menimba air.
Tiba-tiba seperti jatuh dari awan saja layaknya, berdirilah seekor musang di celah rumput ilalang.
“Assalamualaikum!” sapa si Musang
“Alaikum salam!” jawab Bibi Bangau
“Sedang apa Bibi Bangau?” tanya si Musang sambil tersenyum culas.
“Sedang mencari ikan.”
“Ikan apa yang kau cari?”
“Apa saja yang ada, udang, lele, gabus, belut, atau kodok. Pokoknya apa saja.”
“Kalau dapat, akan kau apakan ikan itu?” Ku makan mentah-mentah, jawab Bibi Bangau. “Ah, kau ini jorok sekali. Kalau aku jijik makan dengan cara begitu. Paling tidak harus digoreng baru bisa masuk ke perut!” ujar musang dengan congkak.
Bibi Bangau menangis mendapat penghinaan itu. “Au…au!” Dia pun pergi meninggalkan tempat itu karena sakit hati diejek musang. Setelah Bibi Bangau pergi, Musang cepat-cepat turun ke sungai. Dia menangkap ikan-ikan itu lalu dimakan mentah-mentah. “Nyam…nyam!”
Keesokan harinya, Bibi bangau pergi lagi mencari ikan. Kali ini dijumpainya telaga yang hampir kering airnya. Dia mulai menimba air. “Buk syer…. Buk syer!” ketika air telaga hampir kering tiba-tiba datang lagi si Musang. Dia menanyakan hal yang sama seperti kemarin. Bibi Bangau pun menangis dan musang memakan ikan-ikan yang ada di telaga itu mentah-mentah.
Begitulah, berkali-kali si musang berbuat licik terhadap Bibi Bangau. Pada suatu pagi, ketika Bibi Bangau pulang sambil menangis, dia bertemu dengan burung puyuh.
“wahai Bibi Bangau mengapa menangis?” tanya puyuh dengan suara lembut.
Bibi Bangau menceritakan masalahnya dengan musang. Dia datang tiba-tiba pada saat air sungai akan kering, lalu dia bertanya macam-macam. Aku dihinanya sebagai binatang yang jorok karena aku makan ikan mentah. Kalau dia harus menggoreng ikan-ikan itu dulu, baru dimakan!” begitu laporan Bibi bangau kepada Puyuh.
Tenanglah Bibi bangau, kata puyuh, besok pergilah Bibi mencari ikan. Kalau dia menghina, jawablah begini, “siapa yang tahinya berbulu-bulu dipematang itu?”
Bibi Bangau menjadi tenang setelah mendapat pelajaran dari puyuh.
Pagi-pagi sekali, pergilah Bibi Bangau mencari ikan. Dia menemukan kubangan yang hampir kering airnya, lalu mulailah dia menimba air kubangan itu. “Buk syer…buk syer!” setelah hampir kering datang lagi si Musang. Dia berdiri di atas pematang. Tubuhnya sekarang makin buncit dan gemuk. Mungkin karena setiap hari makan ikan hasil jerih payah Bibi Bangau.
“Pagi Bi!” tegurnya.
“Pagi juga!? Jawab Bibi Bangau
“Sedang apa Bi?” tanya Musang
“Ah, lagi iseng mencari ikan, sekedar hobi,” jawab Bibi Bangau.
“Ikan apa yang Bibi cari?” tanya Musang’
“Ya. kalau bisa dapat ikan hiu, ikan paus, penyu, buaya, pokoknya yang aneh-aneh.”
“Kalau dapat, akan kau apakan ikan itu?” Kalau dapat akan kucincang dan kumakan mentah-mentah campur arak dan kecap macam orang Jepang,” jawab Bibi Bangau.
“Ah, kalau aku akan membuat masakan Yunani, agar ikan itu bisa masuk ke perutku,” kata Musang dengan sombong.
“Jangan congkak kau Musang. Siapa yang tahinya berbulu-bulu di pematang itu?” tanya Bibi Bangau menyindir.
Wajah Musang merah padam mendapat sindiran itu. Dia tidak menyangka Bibi Bangau bisa berdebat sepintar itu. Lagi pula, dari mana dia tahu rahasia pribadinya yang sangat memalukan itu.
“Hai, Bibi Bangau siapa mengajar kau?” bentak Musang. “Aku belajar sendiri dari buku dunia binatang” jawab Bibi Bangau tenang.
“Ah, itu termasuk ilmu biologi!” bentak musang.
“Sekarang katakan siapa yang memberitahukan kamu rahasia pribadiku. Kau punya mata-mata ya? Awas kalau tidak memberi tahu aku, sekarang juga akan keremukkan batok kepalamu yang macam kemiri jantan itu!” gertak musang.
“Pu!”jawab Bibi bangau singkat
“Pu…..siapa?” tanya musang’
“Pu…..sudah!” jawab Bibi Bangau
“Pu….. putih?”
“Tidak!”
“Pu……pulang?”
“Bukan!”
“Putri…punai…pu….puyuh?”
“Ya!” jawab Bibi Bangau.
“Awas si Puyuh akan kumakan bulat-bulat!” ancam musang. Setelah berkata demikian, pergilah musang tanpa permisi. Bibi Bangau meneruskan menimba air kubangan. Setelah kering, ditangkapnya ikan-ikan yang ada.
Adapun halnya si musang berjalan ke sana kemari mencari puyuh. Sudah penat ia berjalan, tetapi belum juga dijumpainya hewan celaka itu. Akhirnya setelah satu hari mencari dan tidak bertemu, pulanglah musang ke sarangnya di pohon enau. Malam harinya, bulan bersinar terang benderang. Dari jauh terdengar suara burung celepuk. Musang tidak jadi beristirahat mendengar suara itu. Dia pergi mendapatkan si celepuk dan menanyakan tempat puyuh berada. Konon burung celepuk adalah mahaguru para burung.
“Selamat malam Tuan Guru Celepuk,” sapa musang. “Selamat malam Nanda Musang,” jawab celepuk. Musang pun menyampaikan keperluannya menghadap. Burung celepuk memberi tahu bahwa puyuh berada di padang ilalang di Bukit Punikan.
Pagi-pagi sekali, pergilah musang mencari puyuh di padang ilalang di Bukit Punikan. Dari jauh didengarnya suara puyuh. “But…but!”.
Musang mendekat ke tempat puyuh. Diam-diam dia melangkah. Puyuh tidak sadar ada bahaya mengancam. Tiba-tiba musang mencaplok puyuh dari belakang. Ekor puyuh kena dan putus. Puyuh terkejut, lalu terbang. Konon, itulah sebabnya puyuh tidak mempunyai ekor sampai sekarang.
Kesimpulan
Cerita ini memberi pelajaran kepada kita bahwa jerih payah seseorang janganlah dimanfaatkan untuk kepentingan pribadi. Berusahalah dengan cucuran keringat sendiri. Itu lebih bermanfaat dan membawa berkah.

0 Response to "Cerita Rakyat Bangau Dan Musang"
Post a Comment