Alkisah Rakyat ~ Dahulu kala, hiduplah seorang nelayan dengan sembilan putrinya di suatu desa di tepi pantai. Putri-putrinya sangat terkenal karena kecantikannya, banyak pemuda dari desa tetangga dan pulau-pulau di sekitarnya datang melamar. Namun, putri-putri itu selalu menolak setiap lamaran yang datang.
Kemudian, pada suatu hari ketika mereka sekeluarga sedang duduk-duduk bersantai, mereka terkejut melihat seekor kuskus muncul di rumah. Mereka lebih heran lagi ketika kus kus itu mulai berbicara. Kuskus berharap agar dia boleh menikah dengan salah seorang gadis mereka.
Setelah disampaikan oleh orang tua mereka, terutama ibunya, tentang maksud kuskus kepada gadis-gadisnya, satu per satu mereka mulai menolak.
Pertama, yang sulung menjawab, “Seekor binatang yang kasar seperti itu? Lebih baik mati dari pada menjadi istrinya.
Kuskus pun segera ditendangnya, jawaban ini sama hingga putri kedelapan. Kemudian, pertanyaan ini disampaikan kepada putri bungsu yang bernama Ringkitan.
Ternyata ia setuju karena kuskus itu baik dan bagus, kedua orang tuanya setuju saja apabila ini merupakan keputusan Ringkitan.
Sejak Ringkitan menjadi istri kuskus, saudara-saudara dan tetangga selalu mengejeknya. Ringkitan selalu dihina. Namun, Ringkitan selalu merasa kuskus baik hati, jujur dan setia, dan mereka selalu hidup damai bersama.
Setiap pagi kuskus pergi dan sorenya baru kembali tanpa memberi penjelasan apa pekerjaannya. Ringkitan ingin tahu, tetapi malu, enggan dan segan untuk menanyakan hal itu kepada suaminya. Jika hal ini ditanyakan oleh saudara-saudaanya, dia tak dapat menjawab.
Suatu waktu di pagi hari yang cerah ketika kuskus pergi, Ringkitan membuntutinya. Melalui semak belukar di antara pepohonan yang rindang, Ringkitan berjalan terus mengikuti kegiatan kuskus.
Tiba-tiba kuskus berhenti dan membuat api. Lalu keluarlah asap dan dari asap itu berubahlah kuskus menjadi pemuda yang gagah. Ringkitan sangat bahagia dan rahasia ini disimpannya sendiri.
Hari-hari berlalu dan setap kali Ringkitan penuh curiga kepada kuskus. Apakah benar kuskus dapat berubah seperti yang pernah dilihatnya? Ternyata hal ini memang benar. Di pagi hari yang indah ketika kuskus pergi, dibuntutinya lagi. Ketika kuskus berubah menjadi pemuda yang tampan, Ringkitan memergokinya, sambil tersenyum, dipegangnya kedua belah tangan pemuda itu.
Pemuda tampan itu pun segera memegang tangan Ringkitan dan berdua pulang menuju rumah. Mereka tertawa dengan penuh mesra di sepanjang perjalanan hingga sampai di rumah. Namun, sebelumnya Ringkitan telah menanyakan berulang kali siapakah namanya. Menurut Ringkitan, setiap orang mempunyai nama dan panggilan. “Nama saya Kusoy,” katanya.
“Kusoy?” bisik Ringkitan pelan. Ini nama yang bagus sekali sesuai dengan orangnya. Memang Kusoy berarti segar bugar dan selalu gembira.
Kerukunan Ringkitan dan Kusoy tak dikehendaki saudara-saudaranya. Mereka berusaha untuk memisahkan keduanya. Ketika mereka sedang duduk berdampingan, berkatalah Kusoy kepada Ringkitan,” Aku akan pergi jauh yang membutuhkan waktu berminggu-minggu, mungkin pula berbulan-bulan untuk mencari nafkah.” Ringkitan sebenarnya tak rela ditinggalkan pergi.
Beberapa bulan kemudian, tersebarlah berita bahwa Kusoy akan segera kembali pulang dan membawa bermacam-macam barang. Ringkitan gembira sekali, segera dia pergi ke tepi pantai untuk menjemput Kusoy. Ternyata saudara-saudaranya pun turut menjemputnya. Dalam perjalanan menuju pantai, mereka merencanakan sesuatu hal yang jahat untuk Ringkitan.
Di tepi pantai terdapat sebuah pohon yang besar dan mempunyai cabang-cabang yang kuat. Di tempat itu pula terdapat dataran yang luas untuk tempat bermain para orang muda dan tua. Selain itu terdapat ayunan yang bagus dan secara bergiliran mereka mulai dari yang tertua berayun di situ. Mereka tertawa-tawa dan meloncat-loncat kegirangan. Tibalah giliran Ringkitan. Mula-mula ia didorong secara perlahan. Lama-lama semakin keras dan tinggi sekali. Akibatnya, Ringkitan terlepas dan tergantung di atas cabang dan rambutnya yang panjang pun terkait, sedangkan di bawah cabang pohon terdapat air yang dalam.
Ringkitan berteriak-teriak untuk melepaskan dirinya dan minta tolong, tetapi kakak-kakaknya telah meninggalkan tempat itu. Ringkitan pun hilang harapan. Namun, di kejauhan dilihatnya sebuah kapal layar yang mendekat dan kemudian melewati pohon itu. Ringkitan pun berdendang. “Oh, motor dari jauh, ceritakanlah padaku, sayanglah daku, yang dalam penderitaan. Di manakah Kusoy suamiku berada?”
Dari kapal itu terdengar suara jawaban yang mengatakan. “Kusoy berada di belakang.” Hal ini terjadi beberapa kali. Dan setiap kali Ringkitan berdendang yang sama sesuai dengan keluhannya.
Ketiga kalinya kapal yang lewat terbuat dari emas dan di dalamnya berdiri seorang pemuda yang tampan seperti seorang pangeran. Lagu yang sama pun didendangkannya dan kapal itu pun berhenti. Segera terdengar suara dari bawah yang mengatakan, “Siapakah engkau?”
Inilah saya, Ringkitan,” jawabnya. “Saya datang untuk menjemput suami saya.”
Mendengar jawaban itu, Kusoy segera memanjat pohon itu dan berteriak,” Saya adalah Kusoy suamimu. Apakah yang kau kerjakan di situ?”
Saudara saya yang mengayun-ayunkan saya dengan kencang, akibatnya saya tergantung di sini.”
Kusoy cepat-cepat melepaskan diri Ringkitan dan rambutnya yang terkait di cabang. Setelah turun dari pohon, Ringkitan menceritakan kepada Kusoy semua dari mula hingga akhir peristiwa itu. Kusoy pun menepuk dadanya dan berkata. “Saudara-saudaramu keterlaluan dan sangat cemburu. Tak apa-apalah Ringkitan, karena semua telah berlalu. Dan saya akan meluruskan perkara ini.”
Kusoy segera memanggil pembantunya, untuk membuka sebuah kotak besar dan di sinilah diletakkan si Ringkitan. Mereka pun memasuki tepian pantai. Warga desa telah berdiri menjemputnya. Mereka keheran-heranan melihat Kusoy yang berpakaian indah dan bagus serta lebih tampan dari waktu yang lalu.
Dirumah Kusoy, kedelapan saudaranya telah menunggu. Mereka sudah mempercantik diri agar menarik dan disukai Kusoy. Akan tetapi, Kusoy hanya melihat mereka sekilas dan langsung berkata. “Di manakah istri saya? Mengapa dia tidak menjemput saya?”
Mereka pun menjawab bahwa beberapa hari yang lalu mereka melihat Ringkitan di tepi pantai. Namun sejak itu mereka tidak melihatnya lagi.
Ketika tiba di tepi pantai, saya melihat serang wanita dalam kesulitan di atas pohon. Saya jatuh iba dan membebaskan dia, kemudian membawa serta sekarang ini. Sediakan kursi untuk dia duduk di samping saya. kata Kusoy.
Dalam sekejap, muncullah seorang wanita cantik berpakaian indah dan dileher serta tangannya terdapat perhiasan batu permata. Dua sejoli yang cantik menawan dan elok rupawan itu adalah Ringkitan dan Kusoy. Kusoy pun mengundang para tamu dan memperkenalkan diri.
Akhirnya, mereka pun percaya kepada Tuhan yang menciptakan segala sesuatu dan berbuat hal yang baik.
Saudara-saudara Ringkitan datang berlutut di hadapan nya dan memohon maaf atas kesalahan mereka. Sejak itu, Ringkitan dan Kusoy pun hidup penuh sukacita, damai, dan bahagia.
Kesimpulan
Cerita ini tergolong legenda. Cerita ini sebenarnya tidak pernah terjadi, hanya berupa fantasi dan khayalan belaka. Akan tetapi, cerita ini banyak diketahui orang terutama orang tua. Orang tua dimaksud yang sekarang ini kira-kira berumur 60 tahun ke atas.
Pelajaran yang dapat kita ambil dari cerita ini ialah bahwa kita harus saling menyayangi satu dengan yang lain, terutama dengan saudara sendiri. Demikian pula hendaknya kita jangan sombong dan menghina oang lain.


0 Response to "Ringkitan Dan Kusoy"
Post a Comment