Asal Usul Nama Amurang

Alkisah Rakyat ~ Pada suatu ketika, hiduplah seorang lelaki yang berbadan tinggi kekar dan berdada bidang. Dia suka berkeliling namanya Tiouw Mararatu. Dia adalah anak dari kepala kampung Mandolang yang bernama Korompis. Dia rajin dan ulet mencari makanan di pegunungan Manembo-nembo, Soputan, dan Ranoyapo. Bukan di situ saja, tetapi juga di sekeliling pegunungan Lolombulan.


Pada waktu itu, umumnya orang masih mencari makanan di hutan. Dengan berburu, orang akan dapat makanan lezat seperti babi hutan dan anoa. Tiouw Mararatu adalah seorang yang senang sekali berburu dan mencari ikan di sungai. Sementara dia berburu dan mencari ikan di sungai, dia mendengar suara orang lain yang berada di seberang dia berdiri. Dia segera berkemas dan bergagas-gegas dan memanggil serta pergi dengan teman-temannya sekaligus anjing-anjing piaraannya. Selanjutnya dia pergi ke pertemuan sungai yang dinamakan Rano tuana. Perasaanya tidak enak karena banyak ubi yang disimpannya di bawah pohon seho/enau yang berhamburan ke mana-mana di tanah. Sebenarnya makanan tersebut akan diberikan kepada teman-temannya.

Setelah beberapa hari berjalan, tibalah mereka di Rano tuana. Akan tetapi, ternyata tidak ada apa-apa dan seperti biasa-biasa saja. Itulah sebabnya sebelum mereka pulang, ubi-ubi itu disembunyikan agar tidak hilang. Hanya satu orang saja yang akan ditinggalkan untuk menjaga pohon enau itu dan memasak makanan untuk malam hari dan yang akan dibawa besok harinya. Pada hari ketiga, ketika mereka sedang menunggu-nunggu untuk dipangil makan malam hari, mendekatlah si penjaga. Katanya. “janganlah marah-marah, sebab ada yang akan saya beri tahukan!  Tidak ada lagi ikan yang baru dimasak. Hal ini disebabkan ada orang yang telah mencuri ketika aku pergi mengambil air di sungai. Sempat kulirik orang itu dan ternyata seorang perempuan.”

Setelah mendengar kabar itu, sungguh tak enak perasaan Mararatu. Dia sudah lapar, tetapi menunggu-nunggu peristiwa itu terulang. Sebenarnya, Mararatu akan memarahi penjaga itu, tetapi tidak jadi. Kemudian Mararatu dan teman-temannya pergi melihat bekas tanda kaki tadi.

Memang si penjaga sangat menyayangkan peristiwa itu bisa terjadi. Akan tetapi, “Siapakah dia itu?” Timbullah bermacam-macam dugaan dan pikiran mereka. Barangkali Mararatu sudah teringat akan kabar yang didengarnya di kampung. Katanya, lebih baik pikul saja dia dan bawalah penjaga itu kepada seseorang sesuai dengan kepercayaan orang di kampung itu. Atau dia sajalah yang mengintip-intip perempuan itu. Hal ini akan dirahasiakan. Akhirnya diputuskan bahwa Mararatu dan si penjaga yang akan tinggal.

Besok kamu pergi berburu babi hutan. Sebagaimana biasanya, Mararatu dan penjaga tinggal saja dibawah pohon enau itu. Penjaga itu memang penurut, begitu yang disampaikan kepadanya seketika itu pula dikerjakannya. Setelah selesai memasak makanan sore hari, si penjaga segera pergi berburu. Kemudian, Mararatu memerintahkan agar dia nanti pulang sore hari. Dan Mararatu berjongkok di bawah pohon enau, menunggu-nunggu perempuan yang kurang ajar itu.

Tidak lama kemudian, datanglah seorang perempuan yang sangat cantik. Kelihatannya dia tak tahu bahwa dia akan ditangkap. Dia langsung saja menuju dapur tempat ikan yang sudah dimasak dan segera mengatur untuk makan.

Tiba-tiba dia merasakan tangan yang keras di atas bahunya. Kurang ajar! Apakah kau perempuan yang cantik itu? Apakah kau juga si pencuri itu.”

Siapakah engkau dan mengapa kau mau berbuat sejahat itu? tidak tahu malu! Jawab cepat! Kalau tidak kau akan menerima akibatnya.

Tetapi sedikit pun perempuan itu tidak merasa takut. Lalu katanya, “Janganlah lakukan apa pun padaku karena aku adalah anakmu.”

“Hei apa! Barangkali aku tak mendengar dengan baik! Engkau anakku? Sungguh aneh, orang yang manakah yang mempunyai anak di hutan ini, barangkali kau perempuan setan.”

“Apakah kau tidak percaya padaku? Apakah engkau masih ingat dan tahu di tebing sungai itu di mana banyak rotan?”

Tunas yang besar di situ adalah ibuku dan akulah anakmu. Tanyakanlah saja kepada semua opo/leluhur yang ada di hutan ini kalau aku berdusta. Semua mereka mengetahui bahwa engkau adalah ayahku.

Mararatu jadi bingung dan ternganga saja. Kemudian katanya, “Ah, apakah benar? Apakah boleh hal itu terjadi?”

Kemudian, Mararatu tertawa terbahak-bahak. Katanya, “Kasihan kau perempuan, dengan demikian kau adalah anakku? Sungguh sangat disayangkan karena kau hanya aku biarkan. Hal ini bisa terjadi karena aku tidak mengetahuinya. Dengan demikian kau adalah anakku. Gadisku yang cantik, syukurlah, syukurlah, banyak terima kasih. Walaupun aku orang biasa, tetapi kau kuberi nama gadis yang turun dari kayangan melalui buah rotan yang manis.”

Demikianlah tempat itu diberi nama ururan yang artinya kata yang indah. Di kemudian hari nama tempat itu menjadi Amurang.

Kesimpulan

Cerita ini tergolong legenda. Kampung Amurang sekarang sudah menjadi perkampungan yang indah di Minahasa. Penduduknya juga percaya bahwa Amurang, yang tadinya ururan itu, berarti buah rotan yang enak dimakan.


loading...
Kamu sedang membaca artikel tentang Asal Usul Nama Amurang Silahkan baca artikel Alkisah Rakyat Tentang Yang lainnya. Kamu boleh menyebar Luaskan atau MengCopy-Paste Artikel ini, Tapi jangan lupa untuk meletakkan Link Asal Usul Nama Amurang Sebagai sumbernya

0 Response to "Asal Usul Nama Amurang"

Post a Comment

Cerita Lainnya