Alkisah Rakyat ~ Hujan turun sangat lebat. Guntur dan petir bersahut-sahutan, angin pun berembus dengan kencangnya menggoyangkan pepohonan. Banyak pohon yang tumbang atau patah dahannya. Air mengalir dan tergenang dimana-mana, selokan dan sungai banjir.
Paman Kodok terlihat duduk di dalam liangnya dipangkal pohon asam di antara akar-akar pohon. Disitulah Paman Kodok tinggal, dia duduk memandang curahan hujan sambil menghirup kopi hangat. Sudah menjadi tabiat bangsa kodok yang sangat senang melihat hujan. Di pojok kamarnya ada tungku menyala untuk menghangatkan tubuhnya. Sebentar-sebentar dia memasukkan ranting-ranting kayu sebagai umpan api.
Lain pada tabiat bangsa kera. Paman Kera yang tinggal di dahan pohon asam menggerutu terus. “Ah hujan sialan! Tiap hari turun terus! Omelnya. Paman Kera berusaha berlindung di lubang pohon di atas cabang asam. Akan tetapi, angin deras telah menyiramkan air hujan ketubuhnya.
“Buset..angin kurang ajar, baju mantel buluku jadi basah. Disangkanya ada tukang penatu yang mau menyetrika mantelku” gerutunya lagi.
Karena tidak tahan dingin, Paman Kera turun kepangkal pohon. “Cruk…cruk bunyi kakinya menginjak tanah becek berlumpur.
“Assalamualaikum!” sapa Paman Kera. “Alaikum salam!” jawab Paman Kodok. “Silakan masuk Paman Kera. Di luar cuaca sangat buruk, nanti Paman bisa masuk angin.”
“Ya…ya benar, gara-gara hujan dan angin bandel ini penyakit encokku kambuh. Lihat mantel bulu buatan Parsi yang kupakai ini jadi basah dan kotor. Ah, aku benar-benar benci pada hujan seperti ini!” gerutu Paman Kera.
Paman Kodok hanya tersenyum, lalu mengambil secangkir kopi hangat.
“Ah, secangkir kopi di kala hujan, badan dingin jadi segar. Petir dan guruh jadi gamelan, ah nikmatnya,” kata Paman Kera sambil meneguk kopinya.
Mereka berbincang-bincang dan sepakat untuk pergi mencari batang pisang yang hanyut di sungai.
Batang pisang itu kita tanam bersama. Kalau berbuah kita makan bersama, kata Paman Kera.
Setelah bersepakat, mereka pergi ke sungai untuk mencari batang pisang yang hanyut. Ketika dilihatnya ada batang pisang yang telah hanyut, paman Kodok dengan cepat berenang ke sungai yang sedang banjir itu.
“Ah, kau saja yang berenang. Nanti kulitku gatal-gatal,” begitulah alasan Paman Kera.
Setelah batang pisang dibawa ke darat, mereka pun memotongnya menjadi dua bagian. Paman Kera mengambil bagian ujung dan Paman Kodok diberi bagiang pangkal. Pikir paman Kera, tentulah bagian ujung akan lebih cepat berbuah. Mereka pun menanam pisang masing-masing Paman Kodok menanam pisang di dekat rumahnya. Dia membuat lubang besar di tanah. Lalu, tanah itu diberi pupuk kandang. Sementara itu, Paman Kera menggantungkan ujung batang pisang di puncak pohon asam.
“Ah, kalau pohon pisang ini berbuah, aku sendiri yang bisa memetiknya,” katanya dalam hati.
Beberapa hari kemudian, batang pisang Paman Kodok mulai tumbuh daunnya. Pada suatu pagi, Paman Kera datang dan bertanya, “Hai Paman Kodok, sudah tumbuhkah pisangmu?”
“Ya, baru berdaun satu” jawab Paman Kodok.
“Ah, aku juga begitu,” kata Paman Kera meskipun batang pisangnya sudah layu d puncak pohon asam.
Beberapa hari kemudian Paman Kera bertanya lagi. “Bagaimana keadaan pohon pisangmu, Paman Kodok?”
“Baru berdaun dua helai” jawab Paman Kodok.
“Ah, aku juga begitu,” kata Paman Kera
Paman Kera terus memantau keadaan tanaman pisang Paman Kodok.
“Bagaimana pisangmu,” Paman Kodok?”
“Baru keluar bunganya,” jawab Paman Kodok
“Ah, aku juga begitu,” kata Paman Kera berdusta. Sebenarnya, batang pisang Paman Kera sudah kering. Suatu pagi dia datang lagi, lalu bertanya, bagaimana pisangmu Paman Kodok. “Sudah berbuah,” jawab Paman Kodok. “Aku juga begitu, dusta Paman Kera.
Baca juga :
- Si Pahit Lidah Dan Si Mata Empat
- Cerita Batu Menangis
- Putra Mahkota Amat Mude
- Raja Burung Parkit Yang Cerdik
- Si Pahit Lidah, Dongeng Rakyat Sumatera Selatan
Akhirnya, masaklah buah pisang Paman Kodok. Bertandan lebat dan besar buah pisangnya, paman Kodok ingin sekali merasakan buah pisangnya. Dia memanjat pohon pisang yang licin besar itu.
“Cangklek…cangklek…pruut…cangklek…pruut!”selalu saja dia merosot jatuh. Dia mencoba berulang-ulang, tetapi tidak brhasil.
Tiba-tiba, ‘Ehm….ehm…Assalamualaikum!” kata Paman Kera. “Ha…Paman Kodok rupanya pisangmu sudah masak. Aku juga begitu, tetapi aku belum mau memetiknya. Aku masih menunggu tamu agungku, si Raja Paung Jontot, untuk merasakannya,” ucap Paman Kera berdusta.
Karena Paman Kodok tidak pandai memanjat, terpaksa dia minta tolong Paman Kera untuk memetik buah pisangnya.
“Biarlah! Kau yang memanjat, nanti buah pisangku kita bagi dua,” kata Paman Kodok. “Baiklah! Jawab Paman Kera dengan senang hati menerima tawaran itu.
Dalam beberapa saat saja, Paman Kera sudah sampai di atas tandan buah pisang itu. Dia duduk dengan santai. Matanya berkedip-kedip dan mulutnya tersenyum. Lalu, mulailah dia memilih buah yang paling besar. “Nyam…nyam, dimakannya pisang yang manis dan harum itu.
“Hai Paman Kera, berilah aku sebuah,” pinta Paman Kodok.
“Ah, sebentar, aku masih mencoba rasanya,” jawab Paman Kera sambil memetik pisang lain . Nyam-nyam,!”
“Hai Paman Kera berikan bagianku,” pinta Paman Kodok lagi.
“Ah…tunggu, aku masih mencoba rasanya,” jawab Paman Kera. Begitulah kelakuan Paman Kera, dia terus memakan buah pisang itu dengan lahap. Jika paman Kodok meminta, selalu dijawab dengan ucapan “Aku masih mencoba rasanya.”
Lama-kelamaan, jengkel juga hati Paman Kodok. Dia merasa ditipu temannya sendiri. Karena marah Paman Kodok pun menyembunyikan sarung Paman Kera di bawah tempurung kelapa.
Ketika Paman Kera melihat ke bawah, Paman Kodok tidak ada lagi di situ. Sarungnya juga tidak ada. Pasti Paman Kodok telah menyembunyikan sarungku” pikirnya.
Hai Paman Kodok di mana engkau? Teriaknya, sunyi tidak ada jawaban. Hai Paman Kodok di mana engkau? teriaknya lagi. Paman Kodok diam saja bersembunyi di bawah tempurung kelapa.
Hai Paman Kodok, ini pisangmu, mana sarungku. Aku malu pulang telanjang tanpa sarung. Ayo kembalikan sarungku! Pinta Paman Kera dengan iba.
Paman Kodok, diam saja. Dia tidak mau menjawab, karena tidak ada jawaban, turunlah Paman Kera dari pohon pisang, dia mencari Paman Kodok ke sana kemari sambil berteriak-teriak.
Hai Paman Kodok, ini pisangmu, mana sarungku? Paman Kera mencari Paman Kodok sampai disemak-semak, tetapi tidak dijumpainya. Dicarinya dipinggir sungai,. Mungkin Paman Kodok sedang mandi . disana pun tidak ada. Dia mengelilingi pohon pisang itu sambil memanggil-manggil Paman Kodok, tetapi tidak ada hasilnya.
Setelah capek mencari Paman Kodok, duduklah Paman Kera diatas tempurung kelapa dengan putus asa. Lalu dia memanggil lagi. Suaranya diperhalus dan bernada memelas.
Hai, saudaraku, Paman Kodok yang baik hati, ini pisangmu, mana sarungku?.”Kuk!” jawab Paman Kodok di bawah tempurung. Paman Kera sangat terkejut karena jawaban itu datang dari arah bawah.
Hai, Paman Kodok yang baik, ini pisangmu, mana sarungku? Ia memanggil lagi.
“Kuk!” jawab Paman Kodok, Paman Kera menoleh ke bawah lagi. Dia penasaran dan curiga pada alat kelaminnya. Dia mengira alat kelaminnya itu yang menjawab.
Hai Paman Kodok, dimana engkau, in pisangmu, mana sarungku? Tanya Paman Kera.
Kuk! Jawab Paman Kodok persis di bawah tempat duduk Paman Kera.
Paman Kera sangat geram karena menyangka alat kelaminnya memperolok dirinya. Dia turun mencari batu besar, lalu duduk kembali di atas tempurung kelapa itu.
Awas sekali lagi kau menjawab akan kuhantam dengan batu besar ini, ancam Paman Kera pada alat kelaminnya.
Hai Paman Kodok di mana engkau, ini pisangmu mana sarungku?
Kuk! Jawab Paman Kodok.
Lalu “pok” dihantamnya alat kelaminnya dengan batu di tangannya. Paman Kera pun mati seketika itu juga. Paman Kodok segera keluar dari bawah tempurung kelapa. Dia sedih dan kasihan melihat mayat temannya yang mati akibat ulahnya sendiri.
Kesimpulan :
Cerita ini memberi pesan kepada kita bahwa persahabatan jangan dilandasi tipu daya dengan maksud memperoleh sesuatu tanpa usaha. Akan tetapi, binalah persahabatan dengan hati yang jujur dan saling percaya sehingga terbina kehidupan yang rukun dan damai

0 Response to "Kodok Dan Kera"
Post a Comment