Alkisah Rakyat ~ Beribu-ribu tahun yang lalu, di suatu tempat terdapat telaga yang banyak ikan masnya. Sebagimana ikan-kan yang lain, ikan mas ini hidup dalam air tawar dengan mempergunakan alat khusus. Alat khusus ini adalah insang. Insang hanya dapat bekerja di dalam air untuk mendapat oksigen untuk pernapasan dan daya hidupnya. Biasanya ikan-ikan memasukan air melalui mulutnya, kemudian mengeluarkan melalui insangnya.
Ternyata dalam telaga itu terdapat banyak tumbuhan, yang melepaskan oksigen yang merupakan kebutuhan hidup para ikan mas tersebut. Oleh karena itu ikan mas semakin banyak saja dalam telaga itu.
Ikan mas itu bertelur di antara tumbuh-tumbuhan. Pada waktu menetas, ikan mas berwarna gelap bahkan hampir berwarna hitam. Ketika tumbuh menjadi besar, kebanyakan di antaranya menjadi oranye. Jika mendengar sesuatu seperti bunyi atau langkah kaki, ikan mas akan berenang ke dasar air agar aman. Suara itu di dengar mereka melalui telinga dan gerak sisiknya.
Suatu ketika, mereka mendengar langkah kaki seekor bangau. Rupanya bangau ini sedang lapar. Bangau yang merupakan kerabat cangak, termasuk juga binatang pengarung air. Bangau memilik leher panjang, paruh runcing dan lurus, serta bertungkai kecil panjang. Kebanyakan bangau ini berwarna hitam serta putih, bangau biasa lemah suaranya, terbang dengan leher terulur-ulur melihat-lihat mangsanya. Bangau bersarang di cabang pohon yang kuat. Makanan utamanya adalah ikan. Oleh karena itu, ketika ikan-ikan mas mendengar langkah bangau, mereka pun segera berkumpul untuk tenggelam ke dasar air.
Bangau pun berkata membisu pada ikan mas itu. “Kamu sudah terlalu banyak di situ! Nanti kamu mati karena airnya sudah kabur dan makanannya akan habis.”
Kemudian ia berkata pula. “Akan saja aku bawa kamu ke kolam atau telaga yang lebih besar dan banyak tumbuhannya, agar kamu dapat makanan yang banyak.”
Walaupun secara membisu, bujukan bangau itu dimengerti oleh pimpinan kan mas. Ikan mas pun menjawab. Boleh saja, tetapi dengan mengirim salah satu teman kami sebagai utusan untuk memeriksa tempat itu.
Segera ikan mas yang menjadi utusan naik ke pematang tempat bangau berada dan ikan mas itupun di pegangnya dengan kedua paruhnya. Kemudian mereka terbang ke tempat kolam lain. Setelah sampai di kolam itu, ikan mas melihat bahwa kolam itu lebih besar dari kolam yang mereka tempati. Airnya lebih bersih dan dingin, bahkan makananannya pun lebih banyak, tanpa banyak bicara, mereka kembali ke kolam tempat teman-teman ikan mas berada.
“Saudara-saudaraku”, kata ikan mas yang diutus itu dengan suara yang lemah lembut. Kemudian ia melanjutkan. Memang benar yang dikatakan oleh bangau.”
Kemudian, bertanyalah teman-temannya pada bangau, jadi, dengan bagaimanakah cara kami ke sana?”Jawab bangau, “Akan aku angkat satu per satu dan yang besar-besar dulu.” Ikan mas pun mengangguk.
Kalau demikian kami setuju, kata pimpinan ikan mas. Pada hari itu juga bangau mulai memindahan ikan mas satu persatu. Namun, bukan dilakukannya pada hari itu juga semua, melainkan dari hari ke hari hingga ikan mas dalam kolam itu habis dalam seminggu. Ternyata bangau bukan memindahkan para ikan mas itu, melainkan memakannya hingga habis dan yang tertinggal hanya seekor.
Kemudian, datanglah seekor kepiting besar mendekati burung bangau. Kepiting ini mempunyai lima pasang tungkai. Tungkai bagian depan digunakan untuk menangkap mangsanya. Empat pasang tungkai lainnya untuk berjalan dan berenang. Setiap tungkai memiliki tujuh sendi yang tertata untuk berjalan ke samping. Melihat kepiting yang sedang mondar-mandir, bangau pun berkata secara berbisik karena lemah suaranya.
“Kepiting ! Maukah kau hidup bersama dengan mereka di dalam kolam yang lebih besar?” Jawab kepiting. “Ya, aku mau tapi aku hanya bergantung di lehermu, bukan pada paruhmu, karena aku takut jatuh dari paruhmu atau terlepas. Usul kepiting ini diterima oleh burung bangau. “Baiklah, segeralah gantungkan dirimu pada leherku” jawab bangau.
Kemudian, terbanglah bangau menuju tempat dihabiskannya ikan-ikan mas. Ketika mereka akan terbang penjepit kepiting telah menjepit leher bangau.
Belum saja bangau melaksanakan tugasnya untuk memakan kepiting, rencana bangau sudah dketahui lebih dahulu oleh kepiting. Ketika bangau hinggap di atas kayu besar, kepiting pun segera menjepit sekuat-kuatnya leher bangau yang panjang itu hingga putus dan matilah burung bangau yang rakus itu.
Kesimpulan
Cerita ini tergolong pada dongeng (fabel). Cerita ini sebenarnya tidak pernah terjadi. Akan tetapi, ketiga jenis binatang ini banyak di Minahasa hingga hari ini.
Dalam cerita ini terkandung maksud sehingga kita jangan menipu orang lain agar kita juga tidak ditipu. Bahkan balasannya lebih kejam. Oleh karena itu, hendaklah kita hati-hati. Jangan terlalu percaya orang yang manis mulutnya dan bujukannya, kita harus selalu waspada.

0 Response to "Bangau Yang Rakus"
Post a Comment