Anjing Dan Bangau

Alkisah, beribu-ribu tahun yang lalu, binatang di dunia ini banyak sekali, baik jenis anjing maupun jenis kucing. Anjing dan kucing berjari kekar. Disetiap kaki mereka paling sedikit berjari cakar empat. Jika cakar kucing tidak dipakai, biasanya ditarik masuk oleh otot khusus. Indra penglihat, pembau dan pendengaran mereka sangat tajam. Selain itu mereka memiliki rahang yang kokoh dan gigi yang tajam serta kuat. Anjing memilki enam gigi seri atas dan bawah yang terapit gigi panjang, biasa disebut taring. Dia juga memiliki dua gigi untuk memotong daging, terletak di rahang atas dan bawah. Gigi ini besar dan tajam tepinya.


Kemudian jenis burung antara lain burung bangau. Mereka memiliki leher panjang, paruh runcing dan tungkai kurus panjang. Burung bangau dikenal sebagai burung yang suka mengarungi rawa-rawa. Mereka memakan kodok, ular, ikan, kepiting dan udang. Biasanya untuk mencari mangsa, bangau berdiri diam dengan paruh mendongak ke langit dan dada membusung. Tempat tinggal mereka di pepohonan sekitar payau-payau air asin dan air tawar atau sarang yang terdiri alang-alang dan tumbuhan payau sepanjang danau maupun sungai.

Mereka senang sekali bila terdapat banyak kerbau di sekitarnya. Biasanya sambil  istirahat di punggung kerbau, mereka memakan hasil pencarian mereka. Sayang jenis burung bangau ini tidak dapat bicara bila sudah dewasa.

Dahulu, anjing dan bangau bersahabat erat. Sekali peristiwa, mereka bergotong-royong (mapulus) membersihkan kebun. Jika pekerjaan ini dilaksanakan sendiri, tentu akan lama sekali selesai.

Pagi-pagi benar, bangau dan anjing pergi ke kebun. Anjing berjalan cepat sambil berlari di depan Bangau sesekali dapat melewatinya karena terbang-terbang pendek. Mereka saling berpacu menuju tujuan.

Setiba di kebun, anjing menyuruh bangau mencangkul. Sementara dia akan memasak makanan yang akan mereka makan nanti.

Kira-kira pukul jam 12 siang, anjing selesai memasak. Makanan itu dihidangkannya di atas daun pisang agar kelihatan banyak. Kemudian, anjing berteriak memanggil bangau untuk makan dari luar sebuah pondok kecil di kebun.

Matahari sudah tinggi, tentu engkau sudah lapar bukan? Teriak anjing. “Ayo teman, marilah.”

Tidak lama kemudian, bangau pun menuju sabuah. Dengan langkah lambat bangau tiba di sabuah. Dia melihat makanan telah tersedia, tetapi sayang makanan itu diletakkan di atas daun.

Bagaimanakah akan kumakan semua itu? Paruhku kecil dan panjang. Tetapi biarlah aku akan berusaha,” pikir burung bangau.

Setelah istirahat sebentar, anjing pun mempersilakan bangau untuk makan. Dia berkata. “Makanlah hingga kenyang karena kamu tentu sudah lelah, jangan ada yang tersisa.”

Mereka pun makan bersama, anjing makan dengan lahap hingga makanannya habis. Dia merasa kenyang. Akan tetap, bangau tidak dapat makan dengan baik. Paruhnya yang kecil dan panjang menyebabkan dia hanya dapat makan sedikit. Makanannya berserakan dan tersisa karena tidak dapat dimakan. Bangau merasa lapar dan sedih, tetapi dia diam saja. Rasa dongkol berkecamuk d dalam hatinya.

Keesokan harinya, giliran anjing membersihkan pematang dan kebunnya. Bangau meminta agar anjing membawa parang bukan cangkul. Anjing setuju, pekerjaan anjing hanya memangkas rumput di atas pematang di tepi tambak.

Pagi-pagi benar mereka sudah berjalan menuju kebun. Setiba di kebun, anjing dan bangau sudah mengetahui tugas masing-masing. Anjing mulai membersihkan pematang tambak dan bangau memasak. Bagi bangau, memasak merupakan suatu pekerjaan berat. Akan tetapi perlahan-lahan dia mulai memasak makanan yang akan mereka makan siang hari nanti.

Berbeda dengan bangau, anjing bekerja secara cepat sehinga tugas yang sudah ditentukan cepat selesai. Sebelum pukul 12 siang, anjing sudah datang ke sabuah, bangau pun kaget melihat anjing. Dia segera menyiapkan makanan. Bangau mengambil dua ruas bambu untuk tempat makan mereka.setelah bambu itu diisi makanan, diikatnya pada sebuah tiang sabuah.

Bangau berkata, “Tentu engkau sudah lapar sahabatku.” Lidah anjing sudah terjulur tanda haus dan lapar. Makanlah ! Harus habis ya? kata bangau.

Anjing mulai mendekati bambu yang berisi makanan, akan tetapi, dia hanya berputar-putar dan tidak dapat mengambil makanan di dalamnya. Moncong bambu itu kecil, sedangkan mulutnya besar sehingga dia hanya dapat menjilat bambu itu karena mencium bau makanan yang sangat lezat.

Anjing marah karena dia merasa bahwa bangau membalas dendam. Dia menggonggong dan ingin menggigit bangau. Akan tetapi bangau sudah tahu. Dengan cepat, dia mengibaskan sayapnya dan terbang meninggalkan anjing.

Kesimpulan

Cerita ini tidak pernah terjadi. Jadi cerita ini tergolong cerita fabel. Akan tetapi, cerita ini memberi pelajaran bagi kita bahwa kita harus jujur dalam bersahabat. Jika kita berbuat curang, biasanya pembalasan akan muncul lebih kejam.


loading...
Kamu sedang membaca artikel tentang Anjing Dan Bangau Silahkan baca artikel Alkisah Rakyat Tentang Yang lainnya. Kamu boleh menyebar Luaskan atau MengCopy-Paste Artikel ini, Tapi jangan lupa untuk meletakkan Link Anjing Dan Bangau Sebagai sumbernya

0 Response to "Anjing Dan Bangau"

Post a Comment

Cerita Lainnya