Dahulu kala, di bumi ini belum ada tanaman padi, bumi yang dimaksud adalah daratan tanah Minahasa. Menurut cerita, di daerah itu hiduplah seorang laki-laki bernama Tumiideng. Ia adalah orang yang baik dan kasih kepada orang lain. Oleh karena itu, ia pun dikasihi seorang perempuan bernama Riamasan yang berdiam di angkasa raya.
Memang dahulu antara ruang angkasa dan bumi terdapat tangga yang besar dan kuat. Tangga itu terbuat dari kayu kolintang (kayu telur). Kayu kolintang tumbuh lurus lebat ke atas dan cukup kuat. Tangga itu sering dipakai Tumiideng untuk menemui Riamasan karena Riamasan sering memasak nasi yang sedap.
Suatu waktu, Tumiideng ingin membawa bibit makanan yang sedap itu yang disebut padi untuk ditanam di bumi. Padi adalah sejenis rumput-rumputan yang indah di pandang. Apalagi buah tumbuhan ini menjadi makanan manusia. Akarnya melindungi tanah yang subur dengan cara menahan lapisan atasnya agar tidak terkikis. Batangnya pada umumnya berbentuk tabung berongga, kecuali ruas tempat daun menempel pada batang. Daunnya berhelai sempit panjang dan pangkalnya berpelepah membungkus batang. Tumbuhan ini dapat hidup di ladang maupun di sawah.
Berkali-kali Tumiideng mencoba mengambil bibit itu dari kayangan, tetapi selalu gagal. Akan tetapi, ia terus berusaha.
Suatu ketika, dengan membawa seekor ayam jantan, Tumiideng mendaki tangga dan tiba di kayangan. Setiba di sana, dilihatnya Riamasan sedang mengeringkan begitu banyak padi di atas tikar. Tumiideng senang sekali karena ia menduga rencananya akan berhasil.
Karena terlalu senang, Tumiideng tidak sadar ayam yang ada di tangannya lepas. Ayam itu langsung mematuk-matuk padi yang sedang dikeringkan. Tumiideng segera mengejar ayamnya untuk ditangkap. Untunglah ayam itu cepat tertangkap karena pada kaki ayam itu ada seutas tali pendek. Sewaktu mengejar ayam itu tentu saja telapak kaki Tumiideng menginjak-injak padi. Di garis-garis telapak kakinya tertinggal beberapa butir padi.
Melihat kejadian ini kepala dewi padi, Lingkan Mbene, marah dan mengejar Tumiideng .Tumiideng dengan cepat menuruni tangga untuk tiba di bumi. Karena tidak dapat menangkap Tumiideng, saudara Lingkan Mbene, yaitu Sumanti, memotong tangga itu. Tidak hanya itu, Tumiideng dilempari pula dengan batu-batu besar dan ruas-ruas bambu. Di daerah itu akhirnya banyak sekali batu-batu besar dan rumpun bambu. Daerah itu berupa pegunungan yang panjang dan luas, berada di Pegunungan Lembean.
Setiba di bumi, Tumiideng segera memotong tembolok ayamnya dan mengambil padi yang telah dimakan ayam itu. Padi dari tembolok ayam dan padi yang terselip ditelapak kakinya ditanam di halaman rumahnya. Jumlah padi itu sembilan butir. Syukurlah pikirnya, angka sembilan angka baik.
Setelah beberapa bulan, padi itu mulai berbuah dan menguning. Semakin lama semakin berisi dan mulai merunduk, keadaan ini terlihat dari angkasa.
“Oh, mengapa mereka sudah memiliki padi. Dari mana mereka memperolehnya,” kata orang-orang di angkasa raya. Mereka marah dan berhasrat merusak padi yang ada, serta akan membunuh orang yang menanamnya.
Untunglah, keadaan ini segera diketahui Tumiideng, padi yang sudah masak dipetik dan yang paling berisi diberikan kepada empunya padi di langit. Mereka tidak jadi marah dengan pemberian itu, bahkan mengasihi orang-orang yang ada di bumi. Sebagai tanda terima kasih, anak cucu Tumiideng yang ada di bumi harus taat kepada orang yang ada diangkasa. Mereka akan turun untuk memeriksa keadaan perkebunan padi pada waktu ada hujan dan matahari. Utusan manusia dari bumi adalah Tumiideng, Talimpongo dan Ratuuman.
Ketentuan yang ditetapkan orang-orang yang berdiam di angkasa antara lain mereka setuju jika makanan orang-orang di bumi juga berupa padi (beras). Saat menanam, memetik, hingga makan tidak boleh ada padi yang tersisa. Apabila padi sudah dipetik harus diadakan ucapan syukur. Mereka juga disuruh bernyanyi dan berbalas pantun sebagai ucapan syukur. Ketika padi sedang tumbuh harus disiangi, jangan sampai rumput lebih tinggi dari padi. Banyak lagi ketentuan lain yang harus ditaati agar padi tumbuh subur dan berbuah lebat.
Jika ketentuan itu tidak dijalankan akan terjadi hal yang sangat menyesalkan manusia, yaitu padi tidak akan berbuah dengan baik.
Manusia di bumi berusaha menjalankan hal ini. Jika tidak, sia-sia semua pekerjaan mereka. Hama tikus, ulat, bahkan ular sawah akan datang. Matahari tidak akan bersinar dan hujan akan membasahi bumi terus-menerus. Hal ini pasti akan menyusahkan anak cucu Tumiideng.
Oleh karena itu, semua nasihat dan syarat dari angkasa didengar dan dilaksanakan dengan baik. Terutama ucapan syukur sebagai tanda terima kasih sekaligus permohonan umur panjang.
Kesimpulan
Cerita ini tergolong legenda yang melukiskan kesetiaan manusia kepada pencipta-Nya yang menjadi sumber makanan dan berkat. Cerita ini mengajarkan kepada kita agar kita tidak membuang makanan. Jika kita boros, sekali waktu kita harus selalu bersyukur kepada-Nya.

0 Response to "Tumiideng Menanam Padi"
Post a Comment