Si Tanduk Alam

Al-kisah adalah seorang bernama Hasan Tanduk Alam Syah atau lebih dikenal dengan panggilan Tanduk Alam. Ia seorang mubaligh yang berasal dari Palembang, ia pergi ke Banggai untuk menyebarkan agam Islam.

Sebagai penyiar agama Islam ia sering mengembara dari pulau yang satu ke pulau yang lain. Setiap singgah di suatu pulau, ia selalu meninggalkan kesan yang baik pada masyarakat setempat. Ia mempunyai jiwa yang besar, tabah dan sabar, sifatnya yang sopan dan ramah membuatnya disukai semua orang.

Pada suatu hari, Tanduk Alam, singgah di tanah Sea-sea, pada waktu itu keadaan masyarakat Tanah Sea-sea  masih berpaham anismisme. Mengetahui keadaan masyarakat seperti itu, ia berusaha mendekatnya secara perlahan-lahan. Kemudian, Tanduk Alam berusaha tinggal di Tanah Sea-sea.

Mula-mula Tanduk Alam membuka usaha sebagai tukang emas dan membuat berbagai perhiasan. Ia menjajakan hasil kerajinannya pada penduduk di desa-desa, makin lama hasil kerajinan Tanduk Alam bukan hanya dikenal di kalangan penduduk, melainkan dikenal juga oleh kalangan raja. Raja Adi Cokro adalah seorang raja yang memerintah Kerajaan Banggai dan kerajaan-kerajaan kecil lainnya. Dalam memerintah kerajaan-kerajaan itu, raja Adi Cokro dibantu oleh empat basalo atau pembantu raja. Sebelum Tanduk Alam tiba di Banggai, Raja Adi Cokro, telah mengenalnya, demikian pula ke empat pembantu raja itu telah mengenalnya karena sehari-hari mereka bergaul dengan Tanduk Alam.

Pada suatu hari, putri Raja Cokro, hilang. Seisi istana gempar, demikian juga seluruh rakyat gempar membicarakan hilangnya putri raja. Raja segera mengerahkan seluruh bala tentara dan rakyatnya untuk mencari putri itu. Namun, usaha yang mereka lakukan itu tidak berhasil. Mereka hanya memperoleh berita dari mulut bahwa putri raja di bawa lari oleh musuh dan disembunyikan di Pulau Sagu.

Untuk membuktikan kebenaran berita itu, raja memanggil ke empat pembantunya. Dalam perundingan itu ada tiga pembantu raja yang tidak bersedia mencari putri raja. Ketiga pembantu raja itu hanya bersedia mendampingi atau sebagai penunjuk jalan saja. Hanya pembantu raja dari Tano Bonunungan yang bersedia mencari kembali putri raja, namun, ia meminta agar raja membicarakan lebih dahulu dengan Tanduk Alam, orang tertua di Tano Bonunungan.

“Baginda Raja, hamba bersedia mencari dan membawa pulang putri Paduka. Tetapi, baginda raja lebih dahulu memberi tahu Tanduk Alam,” kata pembantu raja.

Baik, kalau begitu panggillah Tanduk Alam kemari, jawab Raja. Pembantu raja pergi memanggil Tanduk Alam tidak lama kemudian, Tanduk Alam pun datang. Ia menghadap raja dengan menggunakan pakaian kebesarannya.

Raja mempersilakan Tanduk Alam duduk di samping kanannya. Tanduk Alam, tentunya kamu sudah tahu untuk apa saya panggil kemari, kata Raja.

“Ampun Baginda Raja, apakah karena Tuan Putri yang hilang dan disembunyikan orang di Pulau Sagu?” kata Tanduk Alam.

Ya betul sekali, aku meminta kesediaanmu mencari dan membawa pulang putriku. Baik, hamba bersedia, jawab Tanduk Alam. Pada suatu hari, Tanduk Alam bersama ke empat pembantu raja berangkat ke pulau Sagu dengan perahu layar. Dalam perjalanan Tanduk Alam mengatur siasat untuk mengepung tempat disembunyikannya putri raja.

Hai, pembantu raja, setiba di tempat disembunyikannya putri raja, kita harus berpencar, kata Tanduk Alam.

Baik, Tuan, namun siapakah yang pertama kali masuk ke tempat persembunyian itu? Kata pembantu raja. Akulah yang pertama masuk ke tempat persembunyian, kata Tanduk Alam.

Pada tengah malam, mereka tiba di pulau Sagu. Mereka mengadakan pengepungan, mereka berusaha agar tidak terjadi pertumpahan darah. Untuk itu Tanduk Alam secara diam-diam masuk ke suatu tempat yang dijaga ketat.

Konon, Tanduk Alam meniru cara Nabi Muhammad dalam menghadapi orang kafir Quraisy, yaitu pada saat Nabi hendak berangkat hijrah ke Madinah. Pada saat itu Nabi Muhammad Saw, sedang berada di dalam di rumah, sementara puluhan orang dengan senjata lengkap siap menyerbu ke dalam untuk membunuh Nabi, namun Nabi Muhammad membaca Surah Yaasiin, kemudian ditiupkan kepasir yang digenggamnya lalu ditaburkan ke arah musuhnya, seketika semua musuhnya tertidur lelap, dan dengan aman Nabi Muhammad dapat meloloskan diri, pergi ke rumah Abu Bakar.

Tanduk Alam juga membaca Surah Yasiin, semua orang yang menculik dan menjaga putri raja jadi tertidur lelap, dan dengan mudah Tanduk Alam berhasil membawa putri raja tanpa diketahui para penjaga. Tanduk Alam juga mengetahui bahwa yang membawa lari putri raja itu adalah orang Tobelo. Mereka diperintah oleh Raja Ternate yang ingin menguasai Kerajaan Banggai.

Tanduk Alam bersama ke empat pembantu raja segera kembali ke Banggai, mereka langsung menghadap raja. Raja sangat kagum atas keberhasilan Tanduk Alam yang mampu membawa pulang putri kesayangan raja tanpa ada terjadi pertumpahan darah.

Hai, Tanduk Alam, hadiah apa yang kamu minta dariku? Tanya Raja

Sesungguhnya hamba tidak mengharapkan imbalan apapun dari Baginda, kata Tanduk Alam. Aku telah menerima kebaikanmu, kata Raja. maka kuharap kau jangan menolak anugerah yang akan kuberikan.

Hamba ikhlas  membantu Baginda, kata Tanduk Alam. Aku ikhlas memberimu hadiah, maka sebutkanlah apa yang menjadi keinginanmu baik untuk kepentingan pribadi atau untuk kebaikan umat., Raja mendesak.

Sekiranya Baginda Raja tidak keberatan, hamba minta sebidang tanah kosong dan rawa-rawa untuk ditanami durian dan sagu, jawab Tanduk Alam.

Raja mengabulkan permintaan Tanduk Alam, apalagi permintaan itu boleh dikata tiada artinya, hanya hal yang sepele. Tanah Raja yang luas tidak akan berkurang karena pemberian itu.

Aku kabulkan permintaanmu, aku juga akan mengirim para prajurit dan para tukang pembuat rumah untuk membuka hutan dan mendirikan pemukiman yang kau inginkan itu, kata Baginda Raja.

Kemudian Raja menyuruh para pembantunya agar menebas hutan dan membersihkan rawa, juga para tukang dikerahkan untuk membangun rumah dan tempat ibadah yang diperlukan oleh Tanduk Alam.

Hutan telah ditebas, rawa telah dibersihkan, Tanduk Alam mencoba memuali menanam durian dan sagu, ia juga beternak ayam.

Beberapa tahun kemudian, usaha Tanduk Alam memperoleh hasil yang berlimpah ruah. Hidup Tanduk Alam pun semakin sejahtera. Kemakmuran itu dibagi-bagikan kepada masyarakat sekitarnya dengan jalan memberi sedekah dan membimbing mereka bertani dan beternak, kini masyarakat sekitar pun ikut sejahtera.

Karena nasibnya jauh lebih baik maka masyarakat Banggai mencintai Tanduk Alam, orang yang telah membimbing mereka untuk mencapai kemakmuran.

Setelah berhasil merebut simpati rakyat maka Tanduk Alam dengan mudah dapart menyiarkan agama Islam.

Ia tidak membebani umatnya yang masih awam itu dengan tugas-tugas keagamaan yang berat. Ia memperkenalkan Islam dari segi akhlaknya lebih dahulu.

Pertama berakhlak kepada Tuhan yang telah memberikan nikmat berupa hidup sehat dan hasil pertanian dan peternakan, yang melimpah.

Berterima kasih kepada Tuhan artinya penduduk bersedia mendirikan shalat lima waktu, menjauhi segala apa yang dilarang oleh Tuhan, yang sebenarnya demi kebaikan manusia itu sendiri.

Lalu para penduduk juga diajak hidup rukun, saling tolong menolong dan bantu membantu dalam setiap kesulitan. Yang muda dianjurkan menghormati yang tua, yang tua menyayangi kaum yang lebih muda.

Penduduk setempat dapat menerima ajaran kebaikan ini dengan senang hati. Tanduk Alam pun diperbolehkan menikah dengan perempuan keturunan pembantu raja di Tano Bonunungan.

Tanduk Alam dan istrinya hidup tentram, rukun dan bahagia. Selanjutnya, Tanduk Alam menyiarkan agama Islam dibantu oleh istrinya. Dalam waktu yang singkat, pemeluk agama Islam di tanah Sae-sae bertambah banyak.

Tanduk Alam berjuang untuk menyebarkan agama Islam yang dilakukan oleh Tanduk Alam di Kerajaan Banggai sampai ia meninggal. Ia adalah sosok ulama yang sangat disegani di daerahnya. Sebagai penghormatan atas jasa-jasanya Tanduk Alam dimakamkan  di belakang keraton Raja Banggai.

Kesimpulan :

Masyarakat Banggai sampai sekarang masih suka mengunjungi makam Tanduk Alam. Bahwa agama islam ternyata disebarkan adengan cara damai diberbagai kepulauan Nusantara. Mula-mula seorang mubaligh melengkapi dirinya dengan ketrampilan dalam hal ini Tanduk Alam trampil dalam kesenian membuat perhiasan emas dan mahir dalam pertanian dan peternakan. Kemudian seorang mubaligh harus bermanfaat bagi masyarakat sekitarnya memikirkan cara meningkatkan tarafkehidupan rakyat mau menerima dan bersimpati kepadanya barulah agama Islam ditawarkan kepada mereka.

Dengan cara yang luwes ini, yang juga diterapkan para wali Tanah Jawa yang disebut Walisongo, kebanyakan para mubaligh berhasil menyiarkan agama Islam di daerah masing-masing.


loading...
Kamu sedang membaca artikel tentang Si Tanduk Alam Silahkan baca artikel Alkisah Rakyat Tentang Yang lainnya. Kamu boleh menyebar Luaskan atau MengCopy-Paste Artikel ini, Tapi jangan lupa untuk meletakkan Link Si Tanduk Alam Sebagai sumbernya

0 Response to "Si Tanduk Alam"

Post a Comment

Cerita Lainnya