Legenda Terjadinya Kampung Honggowongso

Di Sala, ada sebuah jalan yang namanya Jalan Honggowongso. Apabila orang masuk ke kota Sala dari barat melalui jalan Slamet Riyadi ke timur dan tiba di sebuah perempatan yang oleh penduduk setempat disebut Ngapeman, kemudian berbelok ke kanan, maka ia akan sampai di sebuah wilayah yang disebut Pasar Kembang. 


Di wilayah ini memang ada semacam pasar tradisional, tempat orang menjual bunga. Bunga yang dimaksud bukanlah bungan hiasan, tetapi bunga yang biasa dibawa orang berziarah ke makam. Adapun jenis bunga yang dijual untuk keperluan itu biasanya bunga mawar, melati, kenangan, dan kantil. Bunga-bunga itu harum baunya.

Di pasar ini, juga dijual keranjang-keranjang tempat bunga yang biasa ditenteng pada saat orang mengantar jenazah ke makam. Tradisi ini masih berlangsung terus hingga sekarang. Di Sala, tradisi menabur bunga pada makam disebut nyekar, artinya mempersembahkan bunga-bunga.

Dari pasar Kembang, ke arah selatan, sampailah orang pada sebuah perempatan jalan. Jika berbelok ke kiri orang dapat menuju ke arah istana Kasunanan, setelah melewati Pasar Klewer, tempat orang menjual bahan pakaian dan cita. Jika dari perempatan itu orang berjalan terus ke selatan, sampailah ia di jalan Honggowongso yang memanjang kurang lebih satu setengah kilometer. Disepanjang jalan ini, berderet toko-toko, tukang jahit, juga perusahaan sepatu yang masih menggunakan cara tradisonal.

Menurut salah seorang penduduk yang tinggal di pinggir jalanan ini, Bapak Darman, pada mulanya, seperti halnya jalan dimana-mana wilayah itu adalah kampung. Jalan Honggowongso pada mulanya juga kampung, yakni Kampung Honggowongso. Sebagai seorang yang sudah cukup banyak usianya, ia tahu banyak riwayat-riwayat yang belum sempat ditulis orang.

Kampung Honggowongso berasal dari nama seorang petinggi keraton yang namanya Raden Tumenggung Honggowongso. Konon, dia adalah serang ahli nujum, ia dapat membaca keadaan melalui gerak-gerik binatang di langit, seperti halnya seorang astrolog. Tumenggung Honggowongso sangat dekat hubungannya dengan si Sunan Paku Buwono II, sejak masih di Kartasura hingga sesudah pindah ke Surakarta.

Seperti sudah diceritakan pada Legenda Terjadinya Kota Surakarta, setelah berhasil merebut kembali takhta dan mahkota dari tangan putranya sendiri. 

Mas Garendi yang mengangkat dirinya raja dengan nama kebesaran Sunan Kuning, Sunang Paku Buwono II menginginkan memindahkan keraton. Salah seorang tetua yang senantiasa diajak berbincang-bincang tentang gagasan ini adalah, Tumenggung Honggowongso.

Hubungan yang dekat antar Sunan dengan ahli nujum ini, kadang-kadang menimbulkan iri hati di kalangan kerabat keraton, termasuk Patih Pringgoloyo. Orang yang paling tidak suka dengan dia adalah Tumenggung Mertoloyo. Dia selalu mengatakan bahwa Tumenggung  Honggowongso adalah ahli nujum yang berbahaya.

Maksudnya, Honggowongso dikatakan menyimpan keinginan-keinginan untuk kepentingan dirinya sendiri, dan bukan demi kesejahteraan kawula dan raja, Sunan Paku Buwono II sebenarnya tidak tertarik memperhatikan laporan-laporan dari Mertoloyo. Akan tetapi, karena bujukan yang terus-menerus, Sunan Paku Biwono II sedikit banyak terpengaruh juga.

Ketika desa Sala sudah disepakati sebagai tempat yang akan didirikan keraton, timbullah persoalan, apakah nama Sala akan dipertahankan atau diganti. Menurut Tumenggung Mertoloyo, sebaiknya nama desa itu diganti. Alasannya, nama itu terdengar terlalu sederhana.

Dikatakan olehnya Sunan Paku Buwono II adalah raja besar. Oleh karena itu, nama kerajaannya  harus pula memberikan isyarat kebesarannya. Sunan mengangguk-angguk mendengar saran itu. Mertoloyo, tentu saja, sangat gembira. Dengan diterimanya usulnya, ia merasa akan lebih dipercaya oleh Raja dari pada Tumenggung Honggowongso. Oleh karena itu, Mertoloyo mengatakan selanjutnya bahwa ia akan bertanya kepada seorang tetua untuk menanyakan nama apa yang tepat sebagai penggantinya.

Mendengar usul itu, Sunan Paku Biwono II tidak bkenan. Dikatakannya Mertoloyo tidak perlu membuang waktu untuk bertanya kemana-mana, sebab di keraton sudah ada Tumenggung Honggowongso. Dialah orang yang tepat mencarikan nama yang tepat pula. Mertoloyo sangat marah mendengar jawaban Sunan Paku Buwono II, tetapi tidak dapat melampiaskan kemarahannya di depan raja. kemarahan itu disimpan di dalam pikir dan hatinya hingga menjadi dendam kesumat bagaikan api dalam sekam. Ia berjanji dalam hati, kelak jika ada kesempatan, kalau tidak dapat menyingkirkan  Honggowongso, paling sedikit, ia akan membuat Honggowongso malu di depan orang banyak.

Usaha menjatuhkan nama Honggowonso, ternyata tidak kunjung dapat dilaksanakan oleh Meroyolo. Pemeriksaan desa calon tempat berdirinya Keraton, hingga awal pembangunannya, dan akhirnya menjelang peresmiannya, gagasan itu tetap saja tingal di dalam benaknya.

Satu minggu sebelum ucapan resmi, pemindahan barang-barang dari keraton Kartasura sudah dimulai. Sunan pun sudah mulai menempati keraton baru. Honggowongso dan Mertoloyo juga sudah berada di desa Sala.  


Tiga malam menjelang peresmian keraton itu, Mertoloyo menemui seorang prajurit yang dikenal tangkas memainkan tombak untuk diminta bantuan melakukan sesuatu terhadap Honggowongso. Prajurit itu tahu apa maksud Mertoloyo. Mula-mula ia menolak, tetapi karena diancam akan diturunkan kedudukannya dari prajurit menjadi abdi biasa, akhirnya mau pula ia menerimanya walaupun dengan sangat berat.

Pada malam berikutnya, sang prajurit harus melaksanakan tugas berat itu, Ia harus menghadang Honggowongso di sebuah jalan, di sebelah barat keraton. Dengan mengucungkan tombaknya, si prajurit meminta agar sang ahli nujum mengundurkan diri dari tugasnya dan menyerahkannya kepada Mertoloyo, tugas itu pun dikasanakan.

Tatkala prajurit dan Tumenggung Honggowongso berpapasan, terjadilah tatap muka yang menegangkan. Waktu itu malam hari, dan bulan tersiput mendung. Bintang-bintang tak tampak germelapan, serta angin pun besembunyi dibalik semak-semak yang remang-remang.

“Kamu mau membuat keributan lagi, ya”? bertanya Honggowongso dengan tenang melunakkan bentakan prajurit itu sambil mengulurkan tangannya. Prajurit, yang mengacungkan tombak tersebut malahan tegang. Ia tak bisa menggertak lagi.

“Kamu tahu, masa keributan sudah usai. Sekarang, kita memasuki zaman karta. Yaitu zaman yang baik,” kata Tumenggung itu selanjutnya.

Prajurit mulai lemas karena ketenangan sang ahli nujum. Tombaknya tidak lagi diacungkan ke arah Honggowongso.

“Kita sudah meninggalkan zaman Sura, yaitu zaman ribut-ribut yang hanya meminta korban,” sambungnya lagi.

Prajurit semakin merasa lemas. Lututnya gemetar, keringat dingin mengalir pada punggungnya. “Katakan kepada saudaraku Mertoloyo, kalau ia ingin kedudukanku tidak usaha dengan cara ini. Besok pagi aku akan menyerahkannya kepadanya di depan Sunan Puku Buwono II,”

Prajurit menjatuhkan tombaknya, ia sendiri tiba-tiba berlutut dan menunduk.

“Maaf saya,”….pintanya.

“Berdirilah. Kamu seorang prajurit, jika ada tugas laksanakan dengan gagah dan penuh keperwiraan. Hanya saja, gunakan akalmu yang jernih,” kata Honggowongso dengan penuh wibawa. Karena prajurit itu masih juga berlutut, sang ahli nujum menarik tangannya.

“Katakan kepada saudaraku Mertoloyo, zaman ini bukan lagi zaman sura, tetapi karta. Dulu, sebelum pindah, kita zaman karta lalu memasuki zaman sura. Oleh karena itu, Kartasura kita pindah ke Surabaya,” kata ahli nujum itu.

Setelah diberi izin prajurit itu pergi. Sesuatu yang aneh terjadi. Pada saat peresmian keraton, seluruh wilayah kekuasaan Sunan Paku Buwono II, atas perkenan Raja, diberi nama Surakarta. Apakah ini memang usul. Tumenggung Honggowongso? Tidak seorang pun tahu. Yang jelas, tempat prajurit dan ahli nujum itu berpapasan kemudian diberi nama Kampung Honggowongso, yang kemudian digunakan untuk memberi nama jalan ynag memanjang itu.

Kesimpulan

Legenda ini memberi pelajaran kepada kita bahwa sikap tenang dapat digunakan untuk mengatasi keadaan kritis. Di samping itu, kehendak dan niat baik terasa lebih menyejukkan dan dapat mengendorkan niat yang kurang baik. 

 Akan tetapi, untuk ini orang memerlukan bekal utama, yakni sikap berjiwa besar, yang berpangkal pada kemampuan menempatkan kepentingtan lebih besar di atas kepentingan sendiri.


loading...
Kamu sedang membaca artikel tentang Legenda Terjadinya Kampung Honggowongso Silahkan baca artikel Alkisah Rakyat Tentang Yang lainnya. Kamu boleh menyebar Luaskan atau MengCopy-Paste Artikel ini, Tapi jangan lupa untuk meletakkan Link Legenda Terjadinya Kampung Honggowongso Sebagai sumbernya

0 Response to "Legenda Terjadinya Kampung Honggowongso"

Post a Comment

Cerita Lainnya