Kisah ini terjadi pada zaman kerajaan Kartosuro, di abad ke-17. Di desa Ktowinangun hidup seorang demang bernama Demang Wonoyudo. Ia memiliki empat orang putri dan tiga orang putra. Yang bungsu seorang putra, alangkah buruk rupanya, ia bernama Joko Sangkrip. Wajahnya sangat buruk, kulitnya dipenuhi dengan kudis dan kurap.
Suatu hari, sang ibu amat sedih melihat keadaan anaknya itu. “Alangkah iba hati ibu melihat keadaanmu, ngger,” kata ibunya.
Joko Sangkrip hanya diam. Sesekali ia menggaruk kudisnya yang gatal, lalat-lalat merubungnya.
“He Joko Sangkrip, menjauhlah dari sini, kami semua tidak nyaman jika mencium bau amis dari tubuhmu,” kata salah seorang kakaknya.
Lagi-lagi Joko Sangkrip hanya diam, ia berdiri, lalu pergi menuruti kemauan saudara-saudaranya.
Ki Demang Wonoyudo, ayah Joko Sangkrip, juga tidak suka dengan anak bungsunya yang malang itu. Suatu hari terjadi pertengkaan hebat antara Joko Sangkrip dengan saudara-saudaranya.
Sang ayah datang menghampiri, lalu menengahi pertekaran itu. Akan tetapi, tampaknya sang ayah sudah tak dapat menyembunyikan perasaan buruknya terhadap Joko Sangkrip. “Kamu ini tidak tahu diri, sudah kudisan, malas, suka bikin ribut lagi. Lebih baik pergilah yang jauh dari rumah ini,” kata ayahnya dengan marah.
Mendengar hal itu, Joko Sangkrip amat sedih hatinya, maka pergilah ia dari rumah itu. Dengan perasaan sedih dan putus asa, ia mengembara. Bahkan ia memasuki hutan dan oleh rasa putus asa itu terbersit keinginannya untuk dimakan binatang buas ia sudah tidak tahan menanggung penderitaan. Namun, ternyata Tuhan menentukan lain.
Meski masuk keluar hutan yang penuh dengan binatang buas, ia tetap selamat. Dan sampailah ia di desa Bojongsari.
Ketika senja matahari mulai menyelinap ufuk barat, ia mendengar alunan suara dari sebuah tempat. Maka hatinya kembali bangkit dari keputus asaan, datanglah ia ke arah suara itu yang ternyata sebuah pondok pesantren.
Melihat para santri tekun belajar membaca Al-Quran, terbitlah keinginannya untuk menjadi santri.
Maka menghadaplah Joko Sangkrip kepada pemimpin pondok Bojongsari bernama Kiai Ahmad Yusuf. Tentu saja Joko Sangkrip diterima menjadi murid di pondok pesantren itu, apalagi Kiai Ahmad Yusuf mengetahui kesungguhan hati Joko Sangkrip.
Singkat kata, Joko Sangkrip menjadi murid kesayangan, karena kesungguhan hatinya, Joko Sangkip makin pintar dan tekun. “Engkau cepat maju, tentu saja itu karena kesungguhan hati dan ketekunanmu.
Tetapi mengapa engkau masih tampak bersedih, Joko Sangkip?” tanya Kiai Ahmad Yusuf, tetapi mengapa engkau tampak memikirkan sesuatu?
Joko Sangkrip mula-mula takut mengutarakan keinginan darinya, yaitu untuk belajar agama dan juga oleh keprajuritan Kiai Ahmad Yusuf akhirnya melepas Joko Sangkrip untuk mencari perguruan olah keprajuritan sebab Pondok Bojongsari tak mengajarkan itu.
Joko Sangkrip pun akhirnya meninggalkan Bojongsari untuk mengembara. Sampailah ia di desa Karangbolong. Di sana ia lalu bertapa memohon kepada Tuhan. Berbagai ujian tidak memfokuskan kesungguhan hatinya. Maka setelah dari pertapaan ia mendapatkan sebuah pusaka sakti berupa sebilah tombak. Jika tombak itu ditancapkan di tanah, akan muncul seekor kera putih yang sakti.
Setelah itu, Joko Sangkrip lalu pulang ke Kutowinangan, tetapi tidak ke tempat ayahnya tinggal, melainkan menuju kademangan Bulupitu. Disana ia melanjutkan tapanya, dan dalam bertapa ia bertemu dengan jin cantik bernama Dewi Nawangwulan.
Alkisah, sang Dewi jatuh hati pada Joko Sangkrip. Cinta tak bertepuk sebelah tangan, Dewi Nawangwulan lalu menyembuhkan segala penyakit yang mendera Joko Sangkrip. Akan tetapi, Joko Sangkrip harus membebaskan keluarga Dewi Nawangwulan yang menderita malu karena dikalahkan oleh Demang Pelancongan.
“Dewi aku belum merasa bahagia kalau belum bisa menjadi prajurit di Surokato, dapatkah engkau menolongku? Bagaimana caranya agar aku dapat menjadi prajurit? Kata Joko Sangkrip.
“Duh kakanda, jika itu keinginan kakanda, dinda akan menolong. Sekarang kerajaan Surokarto sedang geger. Para pemberontak mengancam kekuasaan raja. kalau kakanda dapat mengalahkan pemberontakan dari Banyumas yang dipimpin oleh Joko Suratmo, dan Joko Sumpeno, maka cita-cita kakanda pasti terkabul” ujar Dewi Nawangwulan.
Tanpa membuang waktu, Joko Sangkrip menuju Keraton Surakarta untuk menghadap raja. Alangkah senang hati raja. Maka diterimalah Joko Sangkrip menjadi prajurit, karena kegigihan dan keuletannya, maka pemberontak pun dapat ditaklukkan.
Konon, atas keberhasilannya itu, Joko Sangkrip lalu diangkat menjadi senopati bergelar Tumenggung Honggowongso. Beberapa waktu kemudian ia menjadi bupati Kebumen dan bernama Bupati Arung Binang.
Kesimpulan
Kisah ini tergolong legenda karena pernah terjadi dan masyarakat setempat masih menjaga peninggalannya.
Ada pesan yang menarik dari kisah ini. Meskipun kita memiliki hal-hal yang sangat buruk dalam diri kita, masih dapat digali hal yang baik. Asalkan tekun belajar dan tidak putus asa dalam berjuang.

0 Response to "Legenda Joko Sangkrip"
Post a Comment