Kisah ini terjadi pada masa pemerintahan Raja Demak III. Di desa Pingit, wilayah keresidenan Kedu. Tersebutlah seorang pendekar yang sakti bernama Dadung Awuk. Ia tidak mempan oleh senjata tajam. Kalau keris, tombak, atau apa saja menghunjam tubuhnya, ia tidak akan mati, bahkan sakit pun tidak ia rasakan.
Karena kesaktiannya, ia suka mencoba-coba kesaktian pendekar-pendekar tersohor. Dan semua itu membuatnya menjadi orang sangat pongah. Seolah tak ada lagi yang melebihi kesaktiannya.
Suata hari, seorang pendekar arif menolak tantangannya, bahkan ia menyarankan kepada Dadung Auk untuk menggunakan kelebihannya itu untuk hal-hal yang benar.
“Hei, Dadung Awuk. Dari pada kesaktianmu hanya kau gunakan untuk hal-hal yang tidak berguna, lebih baik datanglah ke negeri Demak. Raja Demak sedang mengumpulkan para satria untuk diangkat menjadi prajurit utama,” kata pendekar itu.
“Oh, kalau begitu aku akan ke sana, dengan kesaktianku, tentu saja aku tidak akan kesulitan menjadi prajurit,” katanya.
Singkat cerita, menghadaplah kepada Dadung Awak ke Demak, dan bertemu dengan raden Joko Tingkir yang menjadi senopati, ia pun mengutarakan keinginannya.
“Hei, Dadung Awuk. Apa kau sudah mantap dengan niatmu? Kau tahu, menjadi prajurit utama tidaklah mudah.
Kau harus menunjukkan kesaktianmu dan kau benar-benar akan diuji,” kata Raden Joko Tingkir.
“Duh, Raden, kalau hanya diuji, tentu saja bukanlah hal yang sulit buat hamba,” ujar Dadung Awuk.
“Dadung Awuk, ketahuilah sudah banyak calon prajurit utama tidak mampu menghadap ujian yang kuberikan,” kata Raden Joko Tingkir.
“Ujian apakah, Raden? Ampun. Dadung Awuk tidak takut oleh apa pun Raden. Apalagi hanya digebuk atau dipukul. Bahkan kalau seharian tubuh hamba ini tidak ditusuk keris, tombak dan jika seharian leher hamba tidak ditikam pedang, rasanya gatal, Raden,” ujar Dadung Awuk yang sakti itu dengan amat sombong.
Melihat kepongahan Dadung Awuk, Raden Joko Tingkir, amatlah geram, dalam hati, Raden Joko Tingkir menyumpah tak akan bertemu dengan orang sesombong ini. maka ditariknya tangan Dadung Awuk.
“Berdirilah, Dadung Awuk, aku akan mengujimu sekarang,” kata Raden Joko Tingkir dengan menahan amarah.
Dadung Awuk menuruti, dan ia bersiap untuk diuji. “Apakah kau tidak akan merasa sakit kalau ditusuk keris?” Raden Joko Tingkir bertanya.
“Jangankan hanya sebilah keris, sekalian tombak pedang, hamba bersiap Raden,” kata Dadung Awuk masih dengan pongahnya.
Raden Joko Tingkir tidak dapat menahan kemarahannya. Tangan kanannya menyambar sadak yang sering digunakan menumbuk sirih, lalu siap menikam dada Dadung Awuk. Dadung Awuk pun rubuh dan mati.
Demi mendengar kabar bahwa Raden Joko Tingkir membunuh calon prajurit utama, murkalah Yang Mulia Sultan Demak. Maka Raden Joko Tingkir pun diusir dari istana, lalu mengembara memasuki hutan.
Kesimpulan
Seolah cerita ini pernah terjadi, mengingat nama-nama dalam cerita ini pernah ada. Dan latar belakang kejadiannya juga ada.
Akan tetapi, banyak orang yang menganggap bahwa cerita ini hanya kiasan, yaitu kisah yang disebar luaskan untuk menutupi kejadian yang sesungguhnya.
Waktu itu cerita ini disebarkan untuk menutupi sebuah kejadian yang terjadi di Kerajaan Demak dengan diusirnya Raden Joko Tingkir dari Demak, padahal Joko Tingkir sebenarnya, sangat disayangi oleh Sultan Demak.
Cerita ini tergolong dongeng, meskipun di daerah Kedu terdapat jenis kesenian Dadung Awuk yang mengambil karakter dari golongan ini, namun tak ada kaitannya dengan cerita ini.
Dari kisah itu dapat dipetik bahwa kita tidak boleh pongah dan sombong. Harus diingat bahwa selalu ada yang melebihi kita.
Hendaknya kelebihan yang kita miliki digunakan secara benar, tanpa harus menyombongkannya.

0 Response to "Dadung Awuk Yang Pongah"
Post a Comment