Alkisah Rakyat ~ Dahulu di kampung Ndoso, di sebuah Dusun terpencil di Kecamatan Kuwus, Kabupaten Manggarai, Flores Barat, propinsi Nusa Tenggara Timur ada seorang gadis cantik namun aneh. Pada saat itu kecantkannya tidak ada satupun yang mampu menandinginya. Sedangkan disebut aneh karena asal-usulnya tidak jelas.
Hanya ibunya yang tampak jelas sebagai manusia biasa, sedangkan ayahnya tidak tampak dalam kehidupan sehari-hari. Konon ceritanya ayahnya keturunan makhluk halus. Itulah sebabnya Nggerang disebut-sebut sebagai anak de darat, yaitu anak dewa dari kayangan.
Memang Nggerang sangat cantik sekali. Otaknya sangat cerdas berkat ilmu permainan sulapnya. Dengan ilmunya itu Nggerang bisa menyulap dirinya menjadi suatu benda atau menjadi binatang atau menjadi apa saja yang dikehendakinya. Kalau sudah begitu, orang sulit mengenalnya lagi dan tak mampu melihatnya.
Walaupun ayahnya tidak jelas. Nggerang tetaplah gadis cantik yang menarik simpati semua orang. Tidak hanya kaum pemuda atau lelaki biasa yang mengaguminya, tetapi wanita dan sesama gadis pun mengagumi kecantikannya.
Bukan hanya kaum bangsawan Manggarai yang ingin mempersuntingnya, tetapi penguasa yang menjajah Manggarai saat itu sangat ingin memperistrikan Nggerang.
Memang si Nggerang itu seorang gadis dusun. Namun pesona senyumnya bisa menggoda lirikan siapa pun. Kulit tubuhnya mulus kemerah-merahan persis gambaran putri kayangan yang serba sempurna. Hidungnya serasi dengan bibir tipisnya yang merah alami. Sinar matanya bening berkaca-kaca. Rambutnya yang hitam lurus nan panjang seakan-akan melambai-lambai kepada setiap orang yang memandangnya.
Tetapi, Nggerang yang cantik itu belum atau bahkan tidak mengenal cinta. Ia tidak ingin merasakan kehangatan cinta, ia berani menolak sang raja yang mencintainya.
Raja Todo yang terkenal waktu itu berniat memperistrikan si Nggerang. Oleh karena itu, Raja Todo mengirimkan utusannya untuk melamar gadis dusun yang kecantikannya begitu menggentarkan hati sang raja.
Ketika utusan itu masuk ke kampung Ndoso, Nggerang sudah menjelma menjadi sesuatu yang sulit dikenal lagi. Tiba-tiba ia menghilang begitu saja dari pandangan orang.
Ketika utusan Raja Todo masuk ke rumah Nggerang, ibunya sangat terkejut. Tamu yang terhormat itu disapa secara ramah tamah. Tamu utusan itu menjelaskan bahwa Raja Todo akan melamar Nggerang untuk menjadi istrinya.
Karena maksudnya demikian, diundanglah seorang tongka, yaitu juru bicara yang akan menanggapi tujuan kedatangan tamu tersebut.
“Niat Raja Todo memang baik sekali. Andai kata Raja Todo menghendaki gadis lain di kampung ini, tentu saja tidak ada pihak yang kecewa, karena Tuan menghendaki Nggerang, sulitlah bagi kami untuk menanggapi maksud kedatangan Tuan,” demikian kata juru bicara pihak Nggerang.
“Kenapa sulit?” tanya utusan Raja Todo.
“Kalau saya Nggerang ada di rumah atau ada dan kelihatan di kampung ini, tentu tidak sulit bagi kami untuk memanggilnya,” kata juru bicara pihak Nggerang.
“Nggerang kemana?”
“Kami tidak tahu, Tuan!”
“Mungkin kalian sembunyikan dia,” kata utusan Raja Todo.
“Kalau Tuan mau,” kata Tongka,” carilah gadis itu di setiap sudut rumah di kampung ini,. Bahkan kalau Tuan tidak berkeberatan, Tuan dapat kami antarkan ke setiap kamar ditiap-tiap rumah yang ada di kampung ini.”
Kali ini utusan Raja Todo kembali ke Todo tanpa membawa harapan cinta Nggerang kepada sang raja. Begitu tamu utusan kembali ke Todo, muncullah Nggerang dalam kehidupan seperti biasanya.
Beberapa hari kemudian di ketahui oleh Raja Todo, bahwa Nggerang sudah ada lagi di kampungnya. Dengan demikian, Raja Todo pun menyuruh mencoba melamar gadis aneh itu lagi.
Sayangnya, begitu utusan masuk ke rumah Nggerang maka Nggerang segera menyulap dirinya menjadi benda yang sulit dikenal orang. Nggerang bisa menyulap menjadi tiang rumah, bisa menjadi keranjang, menjadi daun, atau menjelma menjadi apa saja yang sulit di kenal orang.
Kedua kalinya utusan Raja Todo gagal melamar Nggerang. Kegagalan itu diketahui Raja Pongkor. Raja Pongkor yang masih bersaudara dengan Raja Todo segera mengutus utusannya untuk mempersunting Nggerang. Namun, seperti utusan Raja Todo, utusan Raja Pongkor juga kembali ke Pongkor dengan tangan hampa. Gadis “aneh” itu tetap tidak mau diperistri oleh siapa pun.
Selain kedua raja yang bersaudara itu, Raja Cibal dan Mori Reok dari Manggarai Utara pun mengetahui berita tentang kecantikan Nggerang. Utusan Raja Cibal segera didatangkan ke kampung Ndoso. Lagi-lagi Nggerang tiba-tiba menghilang. Ia baru muncul kembali setelah tamu sudah pergi dari kampungnya. Utusan dari manggarai Utara itu gagal berjumpa dengan Nggerang.
Ternyata tidak hanya raja-raja Manggarai yang gagal mempersunting Nggerang. Mori Dima dari Bima juga kecewa karena cintanya tidak digubris si Nggerang. Oleh karena itu, ditiupkannya guna-guna ke kampung Ndoso, maka awan tebal mengarak-arak ke kampung itu. Awan tebal itu dirasakan oleh orang-orang di wilayah itu sebagai lautan gelombang yang bakal menghampas kehidupan mereka.
Ancaman bahaya itu hanya berakhir jika si Nggerang sudi dilamar Mori Dima. Nggerang tetap tidak peduli dengan ancaman itu. Namun bagi orang-orang lain di daerah itu, kabut tebal hitam pekat yang tampak seperti laut itu dianggap sebagai ancaman yang membahayakan kehidupan kita di kampung ini. Oleh karena itu, orang-orang pun marah dan berniat membunuh si Nggerang.
Membunuh Nggerang itu sangatlah sulit. Setiap kali orang mau membunuhnya, ia menghilang begitu saja dari pandangan si pembunuh. Satu-satunya cara, ilmu gaib yang dimilikinya harus ditaklukkan terlebih dahulu. Untuk menaklukkan ilmu gaib si Nggerang, didatangkanlah seorang dukun dari wilayah Todo. Maka saat itu terjadilah “perang” antara si dukun melawan Nggerang. Ternyata si dukun memiliki ilmu gaib yang lebih hebat sehingga Nggerang kalah. Nggerang tidak mampu menyulapkan dirinya. Akhirnya gadis cantik itu pun dibunuh. Setelah dibunuh, awan tebal yang nampak bagai lautan itu sirna.
Nggerang sudah tewas terbunuh, kulitnya yang bersih dan mulus diambil. Sedangkan tubuhnya dikubur di tempat itu. Ketika orang-orang sampai di Todo, Manggarai selatan, kulit Nggerang itu dijadikan bahan gendang.
Konon gendang itu dahulu bisa berbunyi nyaring sekali. Bunyinya demikian. “Tu…tuuung Loke Nggerang, Tu….tuu Loke Nggeran.”
Bunyinya terdengar sampai di Bima, terdengar pula oleh Mori Dima. Gendang itu tidak boleh ditabuh disembarang waktu, hanya dibunyikan menjelang pesta penting atau pesta adat tahun baru untuk menghormati para leluhur.
Demikianlah kisah gadis yang malang ini. Jaman dahulu memang Hak Asasi manusia belum bisa ditegakkan, seringkali kaum wanita dijadikan alat pemuas kaum lelaki atau mereka yang jauh lebih kuat. Bahkan tak ada yang membela manakala perempuan tersebut dijadikan korban untuk upacara adat tertentu.
Beruntung kita bangsa Indonesia mempunyai sosok wanita teladan seperti Cut Nya Dien dan Raden Ajeng Kartini. Mereka memberi inspirasi bagi kaum wanita Indonesia untuk mengangkat harkatnya, berdiri sama tinggi, duduk sama rendah, bahkan mampu membuktikan dirinya sejajar dengan kaum lelaki atau bahkan ada beberapa wanita Indonesia yang kemampuan atau keahliannya jauh diatas kaum laki-laki.

0 Response to "Gadis Yang Malang, Cerita Si Nggerang"
Post a Comment