Alkisah Rakyat ~ Ada sepasang harimau hidup di hutan. Sudah lama mereka kawin, tetapi belum juga mempunyai anak. Kerena ingin sekali mempunyai anak, mereka mencari obat kesana kemari. Ternyata mereka tidak berhasil mendapatkan obat mujarab. Kemudian, mereka pergi bertapa ke puncak Gunung yang sangat tinggi.
Suatu malam datanglah petunjuk dari suara gaib. “Wahai cucuku harimau kalau kalian ingin punya anak, makanlah anak burung gagak yang baru tumbuh bulunya. Kalian masing-masing seekor. Anak gagak jantan untuk istrimu dan anak gagak betina untukmu.”
Pagi-pagi sekali kedua harimau itu menyelesaikan tapa. Mereka pergi mencari sarang burung gagak. Sarang burung gagak mereka temukan di atas pohon yang amat besar dan tinggi sehingga anak gagak tidak dapat diambil kerena mereka tidak pandai memanjat. Mereka mencari yang lain, tetapi semua gagak bersarang di pohon yang tinggi dan sulit dipanjat, mereka sudah hampir putus asa. Badan mereka kurus kering karena berminggu-minggu berjalan kesana kemari. Makan dan minum sering mereka lupakan.
Pada suatu tempat di pinggir sungai, bertemulah mereka dengan seorang pertapa yang sedang mengambil air. Pertapa itu menyapa dengan ramah.
“wahai harimau apa kabar, mengapa tubuh kalian sangat kurus? Sakitkah kalian atau sudah lama tak memperoleh binatang buruan?
Harimau jantan pun menceritakan perihal mereka mencari anak gagak untuk obat mandul. Lalu pertapa itu menasihati harimau agar memelihara pohon cemara. Pohon cemara itulah yang akan memberikan anak burung gagak.
Pasangan harimau itu pun mencari pohon cemara, mereka menemukan sebatang pohon cemara yang tumbuh di tepi jalan. Pohon cemara itu tidak pernah bisa tumbuh besar karena orang yang lalu lalang disitu selalu mengganggunya. Ada yang memotong cabangnya dengan parang, ada yang mematahkan rantingnya. Bahkan ada segorombolan anak pengembara mencoba membakar batangnya.
Mereka mengumpulkan jerami di pangkal pohon itu untuk membakar ubi. Untung si cemara tidak mati gara-gara hujan lebat. Harimau jantan dan harimau betina itu pun menceritakan maksud mereka untuk bersahabat dengan cemara. Cemara akan mereka jaga dari gangguan orang jahil. Cemara pun berjanji akan memberikan anak burung gagak yang baru tumbuh bulunya untuk pasangan harimau itu.
Hari berganti hari, minggu berganti minggu pun berganti bulan. Cemara hdup dengan tenteram dalam penjagaan harimau. Sejak harimau ada disitu, tidak seorang pun manusia dan hewan liar yang berani mendekatinya.
Bertahun-tahun sudah berlalu, pohon cemara itu menjadi besar. Banyak burung ingin bersarang di pohon itu seperti burung pipit, kedasih, prenjak, ketilang dan banyak lagi. Akan tetapi semua permintaan burung-burung kecil dan remeh itu ditolak oleh cemara. Akhirnya, datanglah sepasang burung gagak ingin bersarang disitu. Pohon cemara menerima mereka dengan senang hati sebab sebenarnya merekalah yang ditunggu oleh cemara.
Sepasang burung gagak itu bersarang di puncak pohon cemara. Setelah gagak bersarang barulah permintaan burung-burung kecil lainnya diterima cemara.
Setelah beberapa lama sarang gagak betina mulai bertelur. Telurnya hanya dua butir. Harimau sangat gembira menerima bisikan pohon cemara bahwa gagak sudah bertelur.
Wahai temanku harimau, aku punya berita baik untukmu. Gagak betina telah bertelur. Dua butir telur putih bertotol hitam rupanya, Terima kasih temanku. Ayo buatlah dia agar cepat menetas.
Tidak lama kemudian, gagak betina mengerami telurnya dan dalam beberapa minggu menetaslah telur itu.
Cemara berbisik lagi kepada Harimau, Lihat anak gagak sudah menetas. Beberapa hari lagi niatmu akan terlaksana. Bukan main gembira kedua harimau mendenga berita itu.
Pada suatu hari, tatkala induk burung gagak pergi mencari makan untuk anaknya, sang harimau berbisik, Ayo teman, sekarang bulu anak gagak itu sudah tumbuh. Goyangkan puncakmu agar anak gagak itu terjatuh. Baik teman, ayo berjagalah, kata cemara.
Kemudian, pohon cemara menggoyakan puncaknya keras-keras dan jatuhlah kedua anak gagak itu. Harimau memakan kedua anak gagak yang malang itu dengan cepat.
Ketika induk gagak pulang, dilihat sarangnya kosong. Alangkah terkejut hatinya. Dia mencari anaknya ke sana kemari, tetapi tidak berhasil ditemukan. Di bawah pohon cemara dilihatnya sepasang harimau sedang tidur. Tampaknya mereka pura-pura tidur. Selain itu, dilihatnya ada bekas darah di dekat harimau.
Gagak bertanya kepada cemara, “Ha sahabatku cemara, kemanakah kedua anakku?” apakah engkau tadi melihat mereka dibawa siapa?”
“Ah, mana aku tahu!” jawab cemara ketus. “Salahmu mengapa tak kau urus anakmu baik-baik. Aku tak tahu apakah mereka dimakan ular pohon atau terjatuh!” jawabnya lagi.
Gagak sangat sedih mendengar ucapan cemara. “Tapi bukankah anakku telah kutitipkan padamu, karena kau sahabat baikku?”
“Ah aku tak peduli, aku tak bersahabat dengan mahluk hina macam kau. Sahabatku adaah si raja hutan yang perkasa, jawab cemara dengan congkak.
Semakin sedih hati gagak jantan dan betina, tahulah mereka bahwa cemara telah memberikan anak mereka untuk dimakan harimau.
Baiklah cemara, aku sudah mengerti sekarang, anakku telah kau berikan kepada harimau. Akan tetapi, ingatlah setiap perbuatan jahat pasti ada balasannya, kata gagak jantan.
Kemudian, terbanglah kedua gagak itu meninggalkan pohon cemara. Mereka terbang melintasi hutan dan padang Gunung dan bukit pun mereka lalui.
Akhirnya sampailah kedua gagak itu disebuah negeri yang besar. Negeri itu dperintah oleh raja yang amat berkuasa bernama Bhatara sakti. Kedua gagak itu pun terbang memasuki istana menuju Taman Sari.
Putri raja sedang asyik, mandi bersama para dayang di taman sari. Tiba-tiba kedua gagak itu menyambar kain selendang sang putri. Putri dan para dayang sangat terkejut. Mereka berteriak minta tolong. Burung gagak menerbangkan selendang itu ke atap balairung. Pada waktu itu, raja sedang bersidang di balairung. Melihat gagak melarikan selendang putri, gemparlah semua orang di balairung.
Raja menyuruh orang-orang untuk menangkap kedua gagak itu. Gagak pun terbang menjauh, tetapi sebentar-sebentar berhenti. Semakin lama semakin banyak orang mengejar gagak itu. Gagak terbang perlahan-lahan menuju pohon cemara. Semua prajurit dan rakyat mengikuti ke mana kedua gagak itu terbang.
Akhirnya sampailah gagak itu di pohon cemara. Selendang putri dikaitkannya dipuncak pohon cemara. Pada pengejar semakin dekat. Kedua harimau segera melarikan diri melihat manusia beramai-ramai datang. Harimau pergi meninggalkan sahabatnya, si cemara. Setelah para pengejar tiba dibawah pohon cemara, mereka melihat selendang putri berada dipuncak pohon. Beberapa orang prajurit mencoba untuk memanjat pohon cemara itu. Akan tetapi karena batang pohon terlalu besar dan tinggi, tidak seorang pun yang berhasil mengambil selendang itu.
Kemudian, datanglah raja bersama para patih Melihat bahwa tidak seorang pun mampu memanjat pohon cemara, raja memerintahkan untuk menebang pohon cemara itu. Para prajurit pergi mencari kapak, golok, parang gergaji dan beliung. Mulailah mereka menebang pohon cemara itu. Pohon cemara menangis kesakitan sambil minta tolong.
“Ayo gagak, tolonglah aku. Jatuhkanlah selendang itu agar batangku tak ditebang,” pinta cemara sambil menangis dengan iba.
Gagak hanya tersenyum mendengar ratap tangis cemara. Sepasang gagak itu pun terbang meninggalkan pohon cemara. Semakin jauh sampai hilang dari pendangan mata.
Para prajurit yang sedang menebang pohon cemara tidak memperdulikan keluh kesah dan jeritannya. Mereka bergantian memotong pangkal cemara yang besar itu. Tidak lama kemudian, tumbanglah pohon cemara. Mereka bersorak gembira. Selendang putri pun diambil. Batang, cabang, dan ranting cemara diinjak orang.
Kesimpulan
Cerita ini bertema kesetiaan menepati janji. Jika salah seorang mengingkari janji persahabatan yang sudah mereka jalin, suatu saat akan menerima ganjarannya. Oleh karena itu, binalah persahabatan dengan kokoh dan setia sekata sehingga tidak akan lapuk oleh hujan dan lekang oleh panas.

0 Response to "Cerita Rakyat Harimau Dan Gagak"
Post a Comment